Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Otonomi Khusus
Kebijakan Penjajah
Hubungan LN
Hukum & Demokrasi
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Hubungan LN

Memagari Potensi Disintegrasi Bangsa
By SP Daily
Aug 18, 2005, 05:04

 
JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, diplomasi Indonesia dilakukan untuk memagari potensi disintegrasi bangsa dan memperkuat bangunan lingkaran konsentrasi kerja sama kawasan yang bertumpu pada ASEAN sebagai pilar utama.

"Diplomasi Indonesia untuk memagari potensi disintegrasi," kata Presiden dalam Pidato Kenegaraan, Selasa (16/8) di Jakarta.

Presiden Yudhoyono menegaskan bahwa Indonesia tetap menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Indonesia terus mendorong diplomasi yang memperjuangkan dan mengutamakan kepentingan nasional dengan mempromosikan perdamaian dan kerja sama.

Tanda-tanda menguatnya peranan Indonesia dalam percaturan politik sudah mulai tampak. Terpilihnya Indonesia menjadi Ketua Komisi HAM PBB, mengindikasikan membaiknya posisi Indonesia dan meningkatnya kepercayaan dan pengakuan situasi HAM di dalam negeri.

Upaya untuk berperan lebih aktif dalam kancah internasional juga terlihat dari penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus ASEAN Pasca Gempa Bumi dan Tsunami yang telah berhasil mendorong perhatian yang lebih besar terhadap masalah kemanusiaan yang terjadi di Indonesia dan di kawasan sekitar.

"Keberhasilan penyelenggaraan konferensi ini telah memperkuat posisi kepemimpinan kita dalam mensponsori kerja sama kemitraan strategis baru kedua benua," ujar Kepala Negara.

Presiden juga mengatakan, Indonesia akan terus meningkatkan peran dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), meneruskan dukungan bagi pembebasan Palestina, dan meningkatkan peranan yang lebih penting di dunia Islam.


KKP dan KKR

Pembentukan Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) antara Indonesia dan Timor Leste diharapkan untuk menemukan kebenaran dan mempromosikan rekonsiliasi. Kedua negara juga sepakat untuk terus mendorong hubungan yang lebih baik di masa depan dan bukan melihat ke masa lalu.

Dijelaskan, pemerintah mengikuti dengan sungguh-sungguh inisiatif Sekjen PBB Kofi Annan dalam membentuk Komisi Ahli untuk mengkaji proses persidangan Pengadilan HAM Ad-hoc. "Namun pemerintah berkeyakinan dapat diselesaikan melalui Komisi Kebenaran dan Persahabatan," kata Presiden.

Diakui bahwa pemerintah masih menanggung beban atas belum tuntasnya berbagai kasus pelanggaran HAM berat pada masa lalu. Sepanjang masih dapat dimajukan ke pengadilan, pemerintah akan meneruskan kasus-kasus itu untuk dituntaskan. Sedangkan untuk kasus-kasus yang sulit dibuktikan akan diserahkan kepada Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang sebentar lagi akan diselesaikan pembentukannya.


Selat Malaka

Berkaitan dengan pengamanan Selat Malaka, Presiden mengatakan, pemerintah akan terus meningkatkan pengamanan sesuai tanggung jawab Indonesia sebagai negara pantai. Untuk itu Indonesia terus mendorong kerja sama dengan Singapura dan Malaysia serta negara-negara yang memanfaatkan jalur pelayaran di selat tersebut.

Pemerintah juga mencegah dan menanggulangi aksi-aksi terorisme. Kerja sama regional dan internasional menghadapi ancaman ini telah berjalan dengan baik dan akan terus ditingkatkan. (H-12)

Source: Suara Pembaruan

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece