From

Kisah Perjuangan
Di Jayapura, Polisi Larang Aksi Front Pepera PB Dalam Rangka Penyambutan Pelurusan Sejarah Papua Barat
By SPMNews Headquarters
Nov 14, 2005, 09:49

Spanduk Aksi yang dipasang di samping kiri Gapura Utama Lapngan Trikora Abepura : "Act Of Free Choice is Lies. We Need Fresh Referendum!"

Jayapura – (SPMNews) –- AKSI Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat (Front Pepera PB) hari ini, Senin (14/11) di Jayapura dalam rangka menyambut peluncuran buku karya Profesor P.J. Drooglever yang berjudul Een Daad van Vrije Keuz: De Papoea’s van westelijk Nieuw-Guinea en de grenzen van het zelfbeschikkingsrecht (Amsterdam, Uitgeverij Boom, 2005) pada hari Selasa (15/11) besok di Den Haag, Belanda, dilarang oleh Aparat Kepolisian Republik Indonesia dengan alasan tidak ada koordinasi antara Polda Papua dan Polresta Jayapura dengan Polsek Abepura soal Aksi ini. Akhirnya, sekitar 200-an Massa Aksi membubarkan diri dengan tenang setelah selama 6 Jam bertahan di Lapangan Trikora Abepura dibawah guyuran hujan sambil mendengarkan Orasi-Orasi Politik.

Selpius Bobii sebagai penanggung jawab Aksi Damai tersebut dalam Konferensi Pers mengatakan kepada para wartawan bahwa dirinya sangat menyesalkan tindakan Polisi (Polda Papua dan Polresta Jayapura) yang tidak melakukan koordinasi dengan Polsek Abepura tentang Aksi Massa hari ini, padahal sudah ada kesepakatan antara dirinya dengan Dir Intelkam Polda dan Kasat Intel Polresta Jayapura bahwa Aksi Massa akan berlangsung dengan tenang dan damai.

"Secara lisan kami sudah lakukan negosiasi dan mereka (Polda Papua dan Polresta Jaypura-red) mengijinkan Aksi Massa kita dengan catatan bisa menjaga keamanan, namun informasi itu belum disampaikan kepada Kapolsek Abepura. Akhirnya, karena informasi belum disampaikan maka pihak Polsek Abepura tidak mengijinkan kita untuk ke DPR-Papua. Dengan demikian, komunikasi dan dengosiasi yang kami bangun dengan Polisi itu dimentahkan kembali. Ini yang saya sebagai penggungjawab bersama kawan-kawan dan Massa Aksi agak kecewa, mengapa kita sudah negosiasi tapi informasi belum disampaikan kepada pihak Polsek Abepura", jelas Bobii.

Ketika ditanya para wartawan tentang kegiatan selanjutnya pada hari Selasa (15/11) besok, Bobii mengatakan bahwa dirinya bersama beberapa teman akan pergi bernegosiasi lagi dengan pihak Polda dan Polresta Abepura yang akan difasilitasi langsung oleh Kapolsek Abepura.

"Kami akan pergi bernegosiasi lagi dengan Polda Papua dan Kapolresta supaya besok itu bisa dibuka ruang demokrasi yang besar bagi Rakyat Papua untuk menyambut Pelurusan Sejarah Papua Barat itu. Rakyat Papua mau melihat letak kebenarannya, karena selama ini Indonesia mengklaim bahwa Integrasi 1 Mei 1963 dan Pepera 1969 adalah Sah, tetapi rakyat Papua menilai bahwa Integrasi 1 Mei 1963 dan Pepera 1969 itu cacat hukum, maka kami mau menyambut Peluncuran Sejarah Papua Barat itu dengan gembira, lapang dada, dengan tulus hati, maka tolong buka ruang demokrasi bagi kami untuk menyambut itu", jelasnya panjang lebar.

Menurut Sekjen Front Pepera Papua Barat itu, apabila Polisi tidak mengijinkan Aksi Massa untuk ke DPR-Papua besok, maka semua Massa Aksi dari Sentani dan sekitarnya, Abepura dan sekitarnya, maupun Jayapura dan sekitarnya akan diarahkan ke Lapangan Trikora Abepura dan akan diadakan satu Perayaan besar-besaran dalam rangka penyambutan Pelurusan Sejarah Papua. Ada Doa Syukur, Orasi-Orasi Politik dan setelah itu Pembacaan Statement Politik yang sudah disiapkan dalam rangka Penyambutan Pelurusan Sejarah Papua Barat itu.

Sekedar diketahui, Massa Aksi sebelumnya berkumpul di dua titik sejak pukul 07.00 WPB, masing-masing di Lapangan Trikora Abepura dan Taman Imbi – Jayapura. Menurut rencana, Aksi Massa kali ini akan dipusatkan di Kantor DPR-Papua. Karena alasan yang tidak masuk akal dari Polisi soal ijin aksi, maka Massa Aksi di Lapangan Trikora Abepura dan Taman Imbi – Jayapura membubarkan diri sekitar pukul 13.10 WPB setelah Penaggungjawab dan Para Korlap Aksi di kedua titik kumpul itu berkoordinasi secara efektif.****

© Copyright 2003-2005 by WatchPAPUA