From

Isu Umum
Air Efata Segera Layani Penerbangan Jakarta-Papua
By Media Indonesia
Jan 12, 2006, 00:38

Jakarta, Maskapai penerbangan swasta, Air Efata segera melayani penerbangan dari Jakarta ke Papua melalui Surabaya atau Makasar sejak 9 Januari 2006 dengan frekuensi 14 kali per minggu.

"Penerbangan akan ditempuh sekitar 4-5 jam atau lebih pendek dari yang disediakan oleh operator lain yang memakan waktu kurang lebih 8 jam karena harus singgah di beberapa kota selain Makassar seperti Surabaya, Manado dan Ambon atau Biak," kata Dirut PT Efata Papua Airlines, Frank Taira Supit kepada pers di sela Syukuran Air Efata di Jakarta.

Sementara Air Efata, lanjutnya, dengan pesawat jet besar seperti MD-88 maka penerbangan dari Jakarta hanya akan transit di Makassar, Surabaya atau Biak yang selanjutnya akan berakhir di Jayapura dan Timika, Papua.

Ia menjelaskan, Air Efata yang memperoleh Airline Operating Certificate (AOC) dari Departemen Perhubungan pada 2004 dan segera diperbaharui mulai 9 Januari 2006 ini sengaja mengenalkan ke pasar domestik sebagai maskapai tradisional yang mengandalkan pelayanan (full service) dengan harga tiket memadai atau fair.

"Kami bukan LCC (maskapai berkonsep murah/low cost carrier), tetapi maskapai tradisional yang mengedepankan pelayanan dengan harga tiket memadai," katanya.

Oleh karena itu, tegasnya, maskapai ini akan menjual tiket untuk rute Jakarta-Papua mulai Rp1,6 juta di kelas ekonomi dan 'deluxe efata' sekitar Rp2,5 juta atau lebih murah dibanding kompetitor sejenis di kelas bisnis hingga Rp3,3 juta dan kelas ekonomi Rp2,1 juta.

"Harga Rp1,6 juta itu dalam masa promosi satu bulan ini. Efata akan menjual lima sub kelas dalam setiap penerbangannya," katanya.

Ia juga mengatakan, penumpang Efata akan menikmati kelegaan terbang dengan pesawat MD-88 dan MD-83 yang senga didisain "tidak lelah" bagi penumpang karena pesawat yang harusnya mampu diisi dengan 165 penumpang, ternyata hanya 142 tempat duduk.

"Jarak antar tempat duduk di kelas Deluxe Efata 36 inci dan kursi berlapis kulit dari Italia seharga Rp8 juta per tempat duduk, sedangkan di kelas ekonomi jarak antar tempat duduk 32 inci. Jadi, lebih nyaman dan lega sehingga pantas untuk penerbangan jarak jauh," katanya.

Membuka papua

Misi dasar dari maskapai baru itu, kata Frank, disamping bisnis juga untuk membuka dan membantu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Papua agar tidak tertinggal dengan pulau lain di Indonesia.

"Karena itu, fokus kami Papua bukan kota-kota lain. Kata "Efata" sendiri berasal dari salah satu bahasa daerah di pulau itu yang berarti 'terbukalah'. Karena itu target kami, mulai Juni 2006, penerbangan pengumpan (feeder) dari kota-kota lain di Papua segera dibuka misalnya dari Sorong, Nabire, Manokwari atau lainnya," katanya.

Hanya saja untuk beberapa kota feeder tersebut, Air Efata harus mengoperasikan pesawat jet lebih kecil atau propeler (berbaling-baling). "Rencana pengadaan pesawat kami tahun ini menjadi sembilan unit yang merupakan campuran dari pesawat jet besar, lebih kecil dan propeler," katanya.

Efata Air adalah perusahaan swasta yang sahamnya dimiliki mayoritas oleh Grup PT Taira Markas, dan sisanya Grup PT Arpeni dan mantan Gubernur Papua Barnabas Suebu.



© Copyright 2003-2005 by WatchPAPUA