| From Buku/ Paper Politik Indonesia Bagaikan Seekor Unta yang sedang bersembunyi, bila duduk tetap saja kelihatan, apalagi berdiri, paling nampak sekali. Artinya Kejahatannya terhadap orang Papua dengan mudah diketahui walaupun mereka (Indonesia) kira sedang bersembunyi. Kejahatan Indonesia yang utama adalah upayanya yang serius untuk menerapkan rumus Indian dan Aborigin terhadap orang Papua. Indonesia hanya murid yang sedang menerapkan teori yang didapat dari dua guru terbaiknya yakni Amerika Putih dan Australia Putih.(Alm. Kayapak ABRAHAM KURUWAIB, S.Sos.)
Sebenarnya banyak kalangan Rakyat Papua sudah menggugat Otonomi Khusus karena Paket Politik ini banyak meresahkan masyarakat secara umum hingga ke dalam rumah tangga. Dalam berbagai bentuk aksi misalnya sejumlah ibu rumah tangga terancam cerai akibat suaminya sebagai pimpro dana otsus untuk pembangunan anu banyak memelihara isteri-isteri simpanan. Hal ini bukannya persoalan pribadi seseorang tetapi kalau tidak ada Dana Otsus dan mobil kaca gelap belum tentu brokenhome. Sejumlah ibu-ibu di pasar menghitung sejumlah mobil-mobil kuda, kijang dan bentuk mobil baru lainnya dan mereka selalu mengatakan bahwa …"oooh mace, ko lihat sana itu Otsut lewat ooo". Demonstrasi-demontrasi masyarakat dan mahasiswa yang marak digelar juga merupakan gugatan terhadap penerapan Otsus di Papua karena tidak sesuai dengan aspirasi dasar mayoritas Orang Papua. Otsus merupakan pesan sponsor Dunia Barat melalui penguasa NKRI yang memperalat 5 - 10 orang dari suku-suku Papua tertentu yang masuk dalam kategori Poros PAPINDO - PAPUA TAPI INDONESIA. Namun kali ini gugatan Rakyat Papua lebih keras, lebih ilmiah dan lebih terfokus, yang mana semua gugatan itu berhasil di cover dalam Buku Berjudul PAPUA MENGGUGAT II : POLITIK OTONOMISASI NKRI DI PAPUA BARAT! Buku ini ditulis oleh Sem Karoba dkk, diterbitkan oleh WatchPapua (sebuah lembaga yang bergerak dalam publikasi dan dokumentasi karya-karya anak-anak Papua) dan dicetak oleh GalangPress Yogyakarta. Menurut Dr. Benny Giay, ada beberapa manfaat yang dapat ditarik dari penulisan buku ini. Pertama, Otonomi Khusus yang diberikan kepada Rakyat Papua, yaitu Otonomi Khusus yang benar, dengan niat baik ini, sebenarnya merupakan siasat Negara Indonesia yang sebenarnya bertujuan untuk terus menghancurkan Papua.
Kedua, merupakan salah satu langkah untuk menyiasati perjuangan, yaitu siasat untuk menyatakan sikap kita, menyatakan tuntutan kita, menyatakan aspirasi kita. Kehadiran buku ini merupakan suatu upaya untuk terus menggugah, upaya untuk terus melanjutkan perjuangan kita. Ketiga, merupakan indikasi bahwa ada semacam kebangkitan, semacam kesadaran untuk menggugah kita. Selama ini kita ditempatkan sebagai orang bodoh, orang kampung, orang yang tidak punya martabat, orang yang tidak punya budaya, tidak punya sejarah. Tulisan seperti ini menjadi kesaksian yang jelas bahwa kita tidak mau terus diposisikan sebagai bangsa yang bodoh, bangsa yang tidak berbudaya, tidak. Ini satu keputusan atau ketegasan dari teman-teman kita yang bikin buku ini. Keempat, sebagai sarana untuk menuntut pihak penindas agar dapat duduk berdialog bersama. Ini cara bermartabat untuk menyatakan keberadaan kita, pandangan kita, meminta dialog sejarah, dialog pemahaman dan dialog budaya, semuanya sebagai sesama manusia yang bermartabat pula. Kelima, penulisan buku seperti ini menandakan bahwa kita mau keluar dari budaya luar, budaya bisu, budaya takut, budaya bisik-bisik. "Point kelima inilah yang selalu mewarnai kehidupan Orang Papua, dari pejabat pribumi hingga masyarakat pribumi. Biasanya yang menciptakan rasa takut itu keluarga dekat kita, saudara kita yang sudah dengar dari orang lain, yang sudah dengar dari tentara. Tentara ini dia sengaja kasih tahu bicara disitu pura-pura yang ini tidak dengar. Ah, yang ini nanti kita begini, Tentara bilang begitu, itu dia cerita sama orang lain. Cerita ini tersebar dan semua orang diam dan takut maka disitulah penjajahan terjadi. Ya, jadi saya lihat buku seperti ini semacam cara melawan budaya bisu. Kegiatan seperti pelucuran buku dan diskusi ini juga merupakan salah satu cara kita untuk melawan budaya bisu, budaya takut yang diciptakan oleh Penguasa Indonesia." Jelas Dr. Giay dengan gaya bertutur Papua-nya yang khas. Kesimpulan ini terungkap dalam Kegiatan Bedah Buku PAPUA MENGGUGAT II yang diselenggarakan oleh KOALISI PERJUANGAN HAK-HAK SIPIL RAKYAT PAPUA, Selasa (2/3) bertempat di Aula STFT Fajar Timur, Abepura - Papua Barat. Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 100-an peserta dari kalangan Mahasiswa, Pelajar, Akademisi, Masyarakat Adat, Pekerja LSM, Tokoh Agama, Pegawai Negeri Sipil, dan Kaum Perempuan. Dengan demikian, maka tugas utama kita sekarang ini adalah memberi tahu kepada publik bahwa Otsus merupakan pesan-pesan sponsor kapitalis barat untuk tetap menjadi pujaan orang Papua. Dunia Barat mempunyai kepentingan ekonomi paling besar di tanah Papua dan ini dibungkus dengan kampanye bahwa: Otsus dapat menyelesaikan akar persoalan orang Papua. Mungkin juga kita sama sama sepakat Kah? bahwa Freeport dan BP LNG Tangguh di Bintuni itu merupakan kebanggaan Orang Papua seluruhnya yang telah memberi dampak kesejahteraan yang baik? Dan mungkin tidak kalah penting bahwa Otsus juga merupakan salah satu metode terbaik untuk menutup utang luar negeri Indonesia karena dari sisi undang-undangnya, sistem moneter masih di atur oleh pusat? Yah, paling tidak ini adalah gambaran kekuatiran dan ketakutan kita terhadap pelaksanaan OTSUS yang mungkin indah tampak luarnya namun didalamnya mengandung virus yang mematikan. Walaupun Otsus menjanjikan kesejahteraan kepada orang Papua namun orang Papua tetap saja membayar ongkos taxi, tetap saja membeli kebutuhan hidup kepada orang pendatang (Akses Pasar cukup tinggi tapi tidak tidur di pasar harus pulang rumah dengan tangan kosong tidak bawa pulang uang kembali, dll), sebelum kasih tahu penyakit saja sudah bayar mahal apalagi obatnya, uang sekolah yang mahal, pakaian seragam yang mahal. Mungkin poin-poin ini bisa kita bedah lagi satu persatu sehingga kita dapat mengukur seberapa jauh keuntungan orang papua terhadap infrastruktur pembangunan yang dibangun pemerintah RI, apalagi dengan Kado Otsusnya. Katakan saja siapakah yang memanfaatkan jalan untuk mendapatkan keuntungan besar? Sedangkan orang Papua sebagai pengguna jasa toh malah tidak ada uang kembali, dan seterusnya dan seterusnya. Orang Papua sudah punya otonomi khusus karena memiliki territorial yang jelas. Otonomi Khusus versi Jakarta merupakan salah satu indikator bahwa orang Papua akan punah pelan tapi pasti. Makanya OTSUS sebagai rambu akan selesainya masa hidup orang Papua di atas tanah leluhurnya ataukah sebagai ucapan terima kasih atas pembantaian orang Papua? Ini hari baik kita untuk omong diri kita, maka omong terus lewat tulisan, lewat aksi terus saja kita kampanyekan diri bahwa kita adalah kita yang bebas di atas tanah sendiri tapi tidak membangun untuk menjadi tuan di atas tanah sendiri karena di Tanah Papua tidak boleh ada tuan dan tidak boleh ada hamba. (Lione-Ontimin) © Copyright 2003-2005 by WatchPAPUA |

