From 
Kecelakaan
MUSIBAH KMP DIGOEL : RATUSAN NYAWA DITELAN LAUT ARAFURA, MAHASISWA/I PAPUA MERAUKE DI SELURUH INDONESIA BUNGKAM TOTAL
By WPRNA NEWS
Jul 16, 2005, 20:22
West Papua Revolutionary News Agency
Merauke - (WPRNANews) - ADA yang mengerikan dalam kasus tenggelamnya KMP Digoel di Laut Arafura pada hari Kamis (7/7) lalu. Walaupun musibah tersebut telah merenggut ratusan nyawa Rakyat Papua dan belasan nyawa Migran Pendatang dan saat ini menjadi fokus perhatian media massa lokal mapun nasional, Mahasiswa/I Papua Merauke yang tersebar di seluruh Indonesia lebih memilih bungkam terhadap musibah tersebut.
Para Mahasiswa/I tenggelam dalam aktivitas mereka sebagai budak kurikulum kolonial yang berbau penjinakan, ada yang sibuk mengurus Pilkada Kabupaten/Kota maupun Provinsi, ada yang sibuk berpesta pora dengan Minuman Keras, dlsbnya, sehingga mereka bersikap apatis, pasif, bahkan lupa terhadap musibah tersebut. Tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa musibah tersebut merupakan Kejahatan terhadap Kemanusiaan yang harus dilawan.
Di Merauke dan beberapa Kota Studi seperti Jayapura, Jakarta dan Manado, para pimpinan Ikatan Mahasiswa/I dikabarkan sedang bersembunyi untuk menghindari kemungkinan desakan dari Rakyat atau para Mahasiswa/I sendiri untuk melakukan aksi protes dalam bentuk apa saja terhadap pihak-pihak yang terkait langsung dengan musibah ini.
Sikap Mahasiswa/I yang menunjukkan karakter dasar Intelektual Penjilat Pantat Penjajah ini sangat disesalkan oleh Rakyat Papua Merauke yang sangat mengharapkan bantuan para Mahasiswa/I sebagai kaum intelektual untuk memerangi Kejahatan tersebut.
"Rakyat-lah yang membiayai studi mereka melalui pajak atau kiriman langsung dalam bentuk transferan, tetapi mereka lebih dengar Pejabat dan Orang Pendatang. Mereka lupa bahwa kita sedang dihancurkan karena kemampuan nalar mereka telah dibunuh oleh para Dosen Kolonial sehingga hampir semua anak-anak kita yang Mahasiswa/I bermental Penjilat Pantat Penjajah dan Anti Rakyat sendiri." Tutur seorang Tokoh Masyarakat Muyu di Kelapa V - Merauke kepada Crew WPRNANews.
Tokoh Masyarakat tersebut menyatakan keheranannya atas sikap Mahasiswa/I Papua Merauke yang tidak jelas karena mereka bungkam total. Ia menyatakan bahwa sikap bungkam para Mahasiswa/I Papua Merauke sama artinya dengan sikap gembira atas musibah tersebut.
"Anak-anak kita punya sikap kurang jelas karena mereka bungkam. Kalau bungkam itu artinya senang atas kematian ratusan orang-orang kita itu. Kami Rakyat Jelata yang tidak sekolah ini belum dengar ada Mahasiswa/I yang tampil melawan Kejahatan ini. Mereka semua bersama Pemerintah menyalahkan Alam Laut Arafura dan rencana bikin Misa Requiem sana sini." Tuturnya dengan nada kecewa.
Perlu disadari bahwa sikap bungkam Mahasiswa/I Papua Merauke di seluruh Indonesia dan Misa Requiem yang direncanakan untuk dibuat jelas menunjukkan Impotensi Mahasiswa/I Papua Merauke dalam berhadapan dengan Sistem Barbar Indonesia dan secara khusus tidak akan menyelamatkan nyawa saudara/I kita yang jadi korban.
Langkah ini sesungguhnya merupakan upaya penyelamatan terhadap pihak-pihak yang paling bertanggungjawab atas musibah ini, yaitu Departemen Perhubungan, Pihak Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Merauke dan Kontraktor/Pengusaha yang menitipkan muatan Alat Berat dan Puluhan Ton BBM tujuan Tanah Merah Digoel. Kita akan diarahkan untuk menyalahkan Alam dan menganggap musibah ini sebagai kebodohan para korban.©wprnanews
© Copyright 2003-2005 by WatchPAPUA
|