From

Freeport MacMoRan
PIMPINAN DAN STAF LPMAK ADALAH LEMBAGA YANG DIDUDUKI OLEH MANUSIA ROBOT PT. FREEPORT INDONESIA
By Honai News
Aug 11, 2005, 11:54

“Bukan Kerapian Administrasi, tetapi kerusakan administrasi LPMAK makin tersebar bukan karena jumlah Karyawan bertambah, tapi karena orang-orang yang baik memilih untuk diam dan mau dikendalikan bagaikan robot yang dikontrol menggunakan remote, Sementara remotelynya juga sudah tidak berfungsi dan rusak parah”

Kehadiran manusia di muka bumi memiliki tujuan dan misi tersendiri. Tujuan eksistensialnya, mengagungkan Allah Pencipta langit dan bumi serta segenap makhluk yang ada di dalamnya. Sementara misi otentiknya, memakmurkan bumi dan membangun peradaban. Kesamaan tujuan dan misi otentik menegaskan tentang ke satuan manusia. Manusia diciptakan dari asal yang satu dan karena itu posisinya sebagai makhluk Allah adalah sama. Ketinggian martabat diperoleh karena ketundukannya kepada kehendak suci dan hukum abadi. Pengesaan atas kerububiyahan dan keuluhiyahan Allah yang mutlak, yang telah dikukuhkan dalam deklarasi kemanusiaan paling universal merupakan penyerahan diri yang total kepada-Nya. Untuk itu manusia dianugerahi potency diri yang lengkap, fasilitas alam, dan kebebasan untuk memilih secara bertanggung-jawab.

Sejarah contemporary Umat manusia diwarnai dengan konflik yang berkepanjangan. Krisis demi krisis terus menghantui kehidupan setiap manusia. Bangsa Melanesia sebagai anggota masyarakat dunia sekarang menghadapi tantangan yang sama. Selama berabad-abad, bangsa Melanesia di Papua Barat yang besar ini bagai buih yang dihempaskan gelombang ke seal arah, tanpa peran birokrasi yang berarti, baik di tingkat Pemerintahan, Perusahaan PT.Freeport Indonesia dan LPMAK sebagai kaki tangannya PT.Freeport Indonesia lewat remote Control yang dimainkan oleh CMS PT.Freeport Indonesia. Hal Inilah yang kemudian mendorong HONAINews untuk mengkritisi sepak terjang dari pada karya besar LPMAK yang bobrok dan dijalankan oleh mayat-mayat hidup alias manusia robot.

Kadangkala manusia Amungme dan Kamoro serta suku-suku kerabat lainnya hanya berdiam diri menyaksikan apa yang sedang dilaksanakan oleh Manusia-manusia robot di LPMAK yang di Pimpin Jhon Nakiyaya dibawah remote kendali Arif Budiyono. Kita bisa saja memilih untuk diam, dan bersikap apatis. Kita bisa saja memilih untuk menjadi bagian dari pihak penghancur, atau kita bisa bekerja keras berfikir dan bertindak sejauh yang kita bisa, untuk memberi keberartian pada setiap kehidupan yang kita miliki. Dan menjadi bagian dari masyarakat yang diharapkan rakyat, masyarakat yang bekerja demi dan untuk perbaikan. Biarkan waktu yang lewat menjadi pelajaran.

Karena itu, merangkaikan solusi untuk perbaikan adalah hal yang harus dilakukan semua orang untuk saat ini, dan meretas semua potency yang masing-masing pihak miliki dengan sebaik-baiknya. Dan bukan menggunakan kedudukan demi keuntungan golongan, bukan mencobah memanipulasi sistem dengan berbagai cara agar kerusakan terus marak, sekali lagi bukan!! Jangan lakukan kerusakan, sedikitpun!!

Akhirnya kita bisa melihat, bahwa pemimpin kita telah terbelah, antara yang pro perbaikan dan yang status quo memihak pada kepentingan golongan yang korup, nepotism, dan penuh kolusi. Dan ini sama sekali tidak terjadi di dunia fiksi, tapi tragedy disebabkan oleh lembaga yang katanya milik Amungme dan Kamoro. Sungguh menyedihkan. Dan bila tidak dicegah, maka remote rusak itu akan terus memaksakan robotnya sistem gado-gado, akibatnya kerusakan terus terjadi secara menyeluruh dan mencekik memenjarakan setiap korbannya. Dan lihat, bagaimana semua dilakukan hanya dengan satu tactic: tangan kiri remote dan tangan kanan money, sehingga lembaga kecil ini akan dimainkan dengan money Politik, yang ujung-ujungnya adalah kepentingan jabatan yang pada akhirnya terjadi kolusi Korupsi Kolusi dan Nepotisme.

Hal ini yang terlihat secara jelas dalam perjalanan LPMAK. Karena sekentingan PT.Freeport Indonesia ada didalam Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro, maka mereka akan melakukan berbagai cara dengan sistem manajemen yang bobrok pula. Bagimana caranya PT.Freeport Indonesia memainkan peran pengontrolannya? Caranya adalah memasang manusia-manusia bodoh “ROBOT” yang bisa Freeport kendalikan dengan Remote Control. Seperti orang yang PT.Freeport pake saat ini adalah JHON NAKIAYA dan Agus Kafiar. Siapa Jhon Nakiaya? Jhon Nakiaya adalah KORUPTOR Kelas Kakap di Keuskupan Jayapura yang menangani Dana-dana Sosial dan Media Pastoral. Akibat dari kerakusan akan uang bagi Umat Allah, akhirnya Keuskupan Jayapura Memecat dia dan membuangnya ke Timika. Freeport Indonesia tau sesungguhnya siapa Jhon Nakiaya, yang mana tukang korupsi uang Gereja Katolik di Depsos dan Media. Namun karena PT.Freeport Indonesia melihat bahwa; PT.Freeport Indonesia akan lebih mudah memerintah Jhon Nakiaya, sehingga manusia yang morallynya bobrok ini dipake.

Berbagai kepentingan PT.Freeport Indonesia akhirnya berhasil juga, PT.Freeport Indonesia menggunakan Agus Kafiar dan Jhon Nakiaya untuk menekan habis-habisan masyarakat Amungme dan Kamoro yang dianggap sangat kritis terhadap PT.Freeport Indonesia. Kenapa PT.Freeport Indonesia menggunakan Agus Kafiar? Agus Kafiar adalah manusia yang fanatic dengan orang Pantai Utara, yang tidak mau orang koteka menjadi Pintar. Contoh khasus; Ketika Agus Kafiar menjadi Rector UNCEN, saat itu manusia dari pegunungan tengah Papua “KOTEKA” jarang sekali diterima untuk kuliah di Universitas Cenderawasih. Nanti Frans Waspakrik yang menjadi Rector baru, hampir 60 % mahasiswa UNCEN adalah anak-anak Pegunungan Tengah “Koteka”.

Contoh Kasus lain adalah dimana Agus Kafiar tidak mau anak-anak Koteka dari pegunungan Tengah maju “Pintar” untuk menguasai Papua & Indonesia adalah dengan menulis surat kepada LPMAK menggunakan manusia ROBOT Jhon Nakiaya atas nama Posisinya sebagai Executive Vice & Director External Relation PT.Freeport Indonesia untuk Deportation Sdr. Hans Magal dari The Australian National University di Canberra-Australia. Hal Pembodohan Manusia Koteka di Pegunungan Tengah juga dibuktikan dengan Staf/karyawan PT.Freeport Indonesia di OB I & II di Kwala Kencana Timika. Staf yang ada disana yang mewakili manusia Papua adalah kebanyakan (Misalnya Tenaga Perempuan & Laki-laki) dari Biak, Serui dan Jayapura.

Contoh kasus lain adalah, Agus Kafiar mengeluarkan surat tertanggal, Jakarta, 5 Juli 2005, yang ditunjukan kepada Badan Pengurus LPMAK, Perihal Pengelolaan Program Pendidikan LPMAK “Biro Pendidikan”. Dalam surat Agus Kafiar tersebut Ia menegur langsung kinerja dari pada Biro Pendidikan dan meminta untuk LPMAK melakukan Intruksi /langka-langka sesegera mungkin. Langka-langka tersebut antara lain Reorganisasi Biro Pendidikan, Pelaksanaan database Beasiswa sesuai keinginan Agus Kafiar, Memperbaiki manajemen Asrama.

Secara logic dan cara main yang benar adalah bahwa, yang berhak menegur Biro Pendidikan adalah Jhon Nakiaya sebagai Sekertaris Eksekutif LPMAK, bukan Agus Kafiar. Hal ini membuktikan bahwa, Jhon Nakiaya adalah ROBOT yang dikendalikan oleh PT.Freeport Indonesia lewat Agus Kafiar. Yang agak aneh lagi adalah Kenapa LEMASA dan LEMASKO bersama PT.Freeport Indonesia tidak melaksanakan Reorganisasi LPMAK secara keseluruhan? Karena Jhon Nakiaya adalah PJS LPMAK yang sementara waktu menggantikan posisi Yoppy Kilangin? Malahan PT.Freeport Indonesia lewat Agus Kafiar meminta salah satu biro “Pendidikan” yang di Reorganisasi? Apa lagi dalam surat tertanggal, 5 Juli 2005 sebanyak 7 halaman tersebut, Agus Kafiar menghimbau kepada LPMAK agar bekerja sama dengan Community Management Services (CMS), dalam artian harus tunduk kepada CMS. Sehingga yang menjadi pertanyaan; Siapa pemilik Dana 1% tersebut? Apakah PT.Freeport Indonesia atau Masyarakat Pribumi? Ataukah Dana Pribadi Agus Kafiar?

Pada hal secara kelembagaan, yang berhak mengontrol atas dana kotoran “Tai” 1% PT.Freeport Indonesia tersebut adalah LEMASA dan LEMASKO. PT.Freeport Indonesia hanyalah Mitra kedua Lembaga. Sehingga LPMAK harus bertanggungjawab terhadap LEMASA dan LEMASKO atas penggunaan dana 1%, bukan kepada PT.Freeport Indonesia. Yang berhak men audit dan lainnya adalah LEMASA dan LEMASKO. PT.Freeport Indonesia hanya sebagai mitra yang akan laporkan oleh LEMASA dan LEMASKO sebagai tembusan bila diperlukan.

Dari pertanyaan-pertanyaan dan penjelasan diatas jelas bahwa, PT.Freeport mengkaburkan sistem kelembagaan yang ada menggunakan Agus Kafiar maupun Jhon Nakiaya. Sebab kedua manusia ini adalah dua manusia ROBOT yang sedang digunakan oleh PT.Freeport Indonesia lewat remote control mafianya. Sehingga jelaslah bahwa, PT.Freeport Indonesia tidak mau menggunakan manusia yang berhati Papua, Pintar dan Cerdas, tetapi PT.Freeport Indonesia menggunakan manusia yang berpotensial memecah belah manusia Papua, yang selalu berpikiran Egoist.

Hal ini bisa dibuktikan dengan omongan Agus Kafiar kepada manusia Papua umumnya bahwa; Agus Kafiar mengatakan tidak ada manusia Papua yang lebih Pintar dari Saya Agus Kafiar, saya adalah orang pertama yang menjadi TOP Executive Vice President & Director External Relation. Pada hal Dia “Agus Kafiar” tidak sadar, kalau posisinya itu semata-mata ada karena manusia-manusia koteka, yang diangkat pada saat kerusuhan tahun 1996-1998 dimana ia di minta untuk menjadi jurubicara saat dana 1% akan turun.

Model Agus Kafiar diatas bagi PT.Freeport Indonesia rupanya sama halnya dengan Jiwa Jhon Nakiaya. Jhon Nakiaya sebagai manusia robot juga dipakai oleh PT.Freeport Indonesia. Kita bersama akan melihat contoh kasus; Dimana pada tanggal, 22 Juli 2005. Jhon mengeluarkan 2 lembar surat Perihal; Chronologies Bantuan Beasiswa Biaya Study Sdr Hans Magal di Australian National University, yang ditunjukan kepada beberapa lembaga terkait.

Jhon Nakiaya menjelaskan tentang berapa besar dana yang dia membantu, dan penyesalannya “seolah-olah LPMAK adalah Lembaga Jhon Nakiaya dan PT.Freeport Indonesia” dalam beberapa point didalam surat bernomor: 540/BM-LPMAK/I-B/VII/05. Dalam surat ini dia menjelaskan juga tentang kemajuan belajar Sdr Hans Magal. Dimana Jhon Nakiaya menjelaskan Hans Telah jatuh dari Ujian Masuk, akibat dari keterlibatan nya dalam organisasi AMPTPI. Didalam point berikutnya Jhon Nakiaya menjelaskan, setelah Konggres AMPTPI di Timika bulan Oktober 2004, Sdr Hans Magal tinggal di Jakarta mngurus organisasi.

Sangat-sangat lucu, karena fakta membuktikan bahwa, salah 3 hari selesai Konggres AMPTPI, Sdr. Hans Magal sudah ada di Australia. Setelah itu bulan berikutnya Beasiswa Belajar di luar Negeri di hentikan oleh LPMAK yang ditandatangani oleh Agus Kafiar dan Jhon Nakiaya. Syarat yang mereka berikan adalah; Anda “Hans Magal” mau mengundurkan diri dari Organisasi AMPTPI atau Beasiswa yang di Hentikan? Pertanyaan yang sudah melanggar Hak Asasi Setiap warga Negara Indonesia untuk ikut berpartisipasi dalam Organisasi Sosial maupun Politik yang secara tegas di atur dalam UU RI.

Hal lainnya adalah, Dalam surat Nomor 540/BM-LPMAK/I-B/VII/05. Jhon Nakiaya mengatakan bahwa Sdr. Hans Tidak Lulus, tetapi yang paling aneh, tidak ada bukti surat, bahkan Australian National University secara tegas mengeluarkan surat penyesalan atas penghentian Beasiswa dan Deportation pulang yang dilakukan oleh PT.Freeport Indonesia. Yang lebih aneh lagi adalah Surat Bernomor, 540/SE – LPMAK / I-B/VII. Tentang Chronologies Bantuan Beasiswa Belajar Sdr. Hans Magal yang di tunjukan kepada Dr. Chris Ballard sebagai Pendamping Study Hans Magal di Australian National University, LPMAK tidak dapat mengirim, bahkan memberikan kepada Sdr. Hans Magal untuk mengirimnya.

Yang menjadi pertanyaan; Apakah benar Hans Magal tidak Lulus? Dari mana Jhon Nakiaya mendapatkan berita itu? Kalau benar kenapa Jhon Nakiaya tidak punya alamat Dr. Cris Ballard? Atau ada pesan sponsor “PT.Freeport Indonesia”? Selain itu yang menjadi aneh lainnya adalah Surat Jhon Nakiaya ini justru adalah tanggapan dari pernyataan resmi RAKERNAS I AMPTPI. Sehingga kalau kita cheek kepada Pengurus AMPTPI, mereka akan mengatakan mereka belum pernah memberikan hasil secara resmi kepada LPMAK.

Sebagaimana yang dilontoarkan kepada kami sebagai Crue HONAINews bahwa; Kami belum duduk bersama PT.Freeport Indonesia, LPMAK dan lembaga-lembaga lainnya.

Sehingga kalau kita mengulas pertanyaan diatas maka, jelaslah LPMAK dan PT.Freeport Indonesia sengaja memutar balik fakta, yang takut kehadiran Sdr. Hans Magal sebagai SEKJEN AMPTPI. Sehingga AMPTPI dilihat oleh kacamata PT.Freeport Indonesia sebagai sebuah organisasi yang menjadi ancaman bagi keberadaan PT.Freeport Indonesia.

Dengan demikian maka, pada kesempatan ini, HONAINews Kabupaten Mimika mengajak kepada seluru lapisan masyarakat di Tanah Amungsa agar bersatu dan selalu mau kritis melihat berbagai permainan dan Phenomena yang sedang terjadi di LPMAK dan Pembunuhan sistem yang dilakukan oleh PT.Freeport Indonesia. (Bersambung)



© Copyright 2003-2005 by WatchPAPUA