| From Kisah Perjuangan Laporan Simon Cuba
Aktivitas penjajahan Indonesia seperti pasar, lalu lintas, pekerjaan kantor, pendidikan dan lain-lain terlihat macet total karena kebanyakan warga pendatang memilih tinggal dirumah. Long March Sejauh 16 KM, TNI Teror Pakai Helikopter
Awalnya, Massa Rakyat Papua berkumpul di dua titik. Mereka yang berdomisili di Genyem, Sentani, Waena, Abepura, Kotaraja, Koya dan Arso semuanya berkumpul di lapangan Trikora Abepura. Sedangkan massa yang berdomisili di Entrop sampai Pasir Dua berkumpul di Taman Imbi – Jayapura Kota. Massa yang melakukan Long March sekitar pukul 09.00 WPB dari Lapngan Trikora Abepura bergabung dengan Massa di Lapangan Imbi sekitar pukul 13.00 WPB dan selanjutnya mereka memasuki halaman Kantor DPR-Papua.
Orasi-Orasi Politik dan Pembacaan Komunike
"Karena itu, Masyarakat Adat Papua dengan ini mendesak DPRP Provinsi Papua dan Pemerintah Provinsi Papua untuk mengembalikan Undang-Undang Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua kepada yang terhormat Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta", demikian bunyi intisari Komunike tersebut yang ditandatangani oleh Leonard Imbiri (Sekretaris Umum DAP dan Forkorus Yaboisembut, S.Pd (Ketua Dewan Adat MAMTA). Tanggapan Penguasa
"Sebagai Lembaga milik rakyat, kita tetap terima apa yang disampaikan oleh Dewan Adat Papua, tapi DPR-Papua tidak punya hak mengembalikan Otsus sebab sudah diatur dalam undang-undang. Yang lebih berhak soal itu adalah Pemerintah Pusat", jelasnya kepada Massa. Tentang Dana Otsus yang lebih banyak jatuh ketangan pejabat dan warga Non Papua, John Ibo mengatakan bahwa ia tidak tahu soal itu karena Dana Otsus sepenuhnya ada di Kabupaten/Kota. Penyataan John Ibo sempat membuat Massa Naik Darah, tetapi berhasil diredakan oleh pihak DAP. Sementara itu, Gubernur Papua JP Salossa ditempat terpisah menanggapi Aksi Pemgembalian Otsus itu dengan emosi. Salossa berang karena ada point tuntutan dalam Komunike Masyarakat Adat Papua yang meminta presiden RI untuk memberikan ijin pemeriksaan terhadap dirinya terkait dana Otsus. "Bagi Orang yang menyebarkan isu-isu bahwa dana Otsus hanya dinikmati orang tertentu, harus dibuktikan dengan data, jangan asal bicara. Sebab ini Negara hukum jadi jangan asal menuduh sembarangan, hanya untuk merusak nama orang, " tegasnya dengan nada marah. Demo Berakhir, Tanggapan Massa
"Dana Otsus yang lebih dinikmati oleh pejabat dan Orang Pendatang itu bukan urusan kami, karena yang kami tuntut adalah kedaulatan kami sebagai sebuah bangsa yang punya hak mutlak untuk menentukan nasib sendiri, untuk merdeka dan berdaulat seperti bangsa-bangsa lain di bumi ," ungkap seorang demonstran berapi-api. Massa juga kecewa terhadap pihak DAP yang mengakhiri aksi protes pukul 15.30 WPB, karena mereka ingin bertahan sampai ada jawaban dari penguasa, terutama dari Presiden SBY. "Kita kecewa karena jalan kaki setengah mati, ada yang pakai koteka dan dansa,padahal DAP bubarkan massa seenaknya. Harapan kami, DAP tidak boleh bikin kami begini lagi, karena kami sudah cukup menderita dibawah Indonesia, Orang Adat jangan ikuti jejak penjajah yang tidak tahu Adat", jelas seorang petani yang ikut dalam Long March. Yang jelas, Otsus adalah cara terakhir kaum penjajah dimana-mana dalam rangka mempertahankan wilayah jajahan mereka dan strategi manipulasi opini untuk menyembunyikan penjajahan yang sesungguhnya. Jika Otsus untuk Papua dikembalikan, maka wajah buas NKRI sebagai penjajah akan kelihatan dengan sendirinya dan kondisi ini akan memaksa masyarakat Internasional untuk mendukung Refendum dalam rangka Penentuan Nasib Sendiri bagi Rakyat Papua.*** © Copyright 2003-2005 by WatchPAPUA |







