Antisipasi Letusan Gunung Kelud - Warga Tinggalkan Tempat Pengungsian

Kategori: Alam Bicara
Oleh SP/Ignatius Liliek
Oct 23, 2007 - 10:44:22 AM
Halaman ke: 1 2

[KEDIRI] Upaya petugas gabungan Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pencegahan (Satlak PBP) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri dan Blitar, Jawa Timur, membujuk para pengungsi agar bertahan di tempat pengungsian kembali gagal. Total pengungsi di tempat penampungan pengungsi (TPP) Kecamatan Puncu, Kepung, Wates, dan Plosoklaten, Kabupaten Kediri semalam ada 6.406 jiwa, namun Senin (22/10) pagi tinggal 2.811 jiwa, yang umumnya kaum perempuan dan anak-anak.

"Jumlah penduduk yang harus diungsikan karena berada di kawasan rawan bencana (KRB)-I radius 5-10 kilometer dari puncak Gunung Kelud, meliputi Kecamatan Ngancar, Puncu, Kepung, dan Plosoklaten, Kabupaten Kediri sesuai data pengungsi tidak kurang dari 32.000 jiwa," ujar Ketua Satlak PBP Pemkab Kediri Sulaiman Lubis yang juga Wakil Bupati Kediri, Senin tadi pagi.

Kendati pagi hari para pengungsi pekerja dibiarkan meninggalkan tempat pengungsian, diharapkan petang dan malam hari sudah kembali bersama istri dan anak-anaknya di tempat pengungsian.

Diakui, begitu fajar menyingsing, para pengungsi laki-laki, mulai dari yang remaja hingga dewasa tanpa dapat dicegah meninggalkan tempat pengungsian. Ada yang harus mencari nafkah, merumput, dan memberi makan ternak yang ditinggalkan di kandang belakang rumah masing-masing.

Sementara itu, hasil survei tim dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) akhir pekan lalu, tiga posko yang berada di lereng Gunung Kelud sudah terpenuhi kebutuhan sembako yang didistribusikan dari Satkorlak. Namun, para pengungsi kini masih membutuhkan antara lain peralatan mandi, susu, selimut, makanan bayi, pampers, serta pakaian bayi dan anak-anak.

Di Desa Tawang, jumlah pengungsi hingga akhir pekan lalu mencapai 680 orang, yang 17 orang di antaranya adalah bayi, 47 balita, dan 69 warga lanjut usia (lansia). Sementara di Desa Satak, dari 175 pengungsi, 11 di antaranya adalah balita.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi ketika berkunjung ke Posko Pengungsi Ansor Muhajirin di Wates dan Kepung serta Puncu, Sabtu (20/10) menerima banyak keluhan dari para pengungsi yang mayoritas warga NU.

Banyak Keluhan

Mereka mengaku tidak dapat hidup berlama-lama di pengungsian karena selain kesehatan putra-putri mereka yang cenderung menurun, terutama gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gatal-gatal karena tidur di tikar dan karpet seadanya yang tidak bersih, aktivitas MCK yang antre panjang.

Hasyim kemudian mencetuskan membentuk Gerakan Ansor Muhajirin, yang artinya setiap keluarga NU yang berada di luar KRB-I harus bersedia membantu menampung dua-tiga jiwa pengungsi yang tidak betah tinggal di tenda-tenda pengungsian. Gagasan itu disambut gembira para pengurus cabang (PN) NU Kabupaten Kediri dan Blitar dengan catatan, masalah kebutuhan logistik harus ditanggung Satlak PBP Pemkab setempat.

Kiai Hasyim memerintahkan PCNU untuk menunjuk Ketua Majelis Wilayah Cabang (MWC) setempat menjadi koordinator penanganan Penanggulangan Bencana Alam (PBA) Gerakan Ansor Muhajirin yang dibiayai PBNU.

Hendrasto, Kepala Bidang Pengamatan Gunung Berapi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sekaligus wakil pimpinan Tim Tanggap Darurat Aktivitas Gunung Kelud di Pos Pengamatan Gunung Kelud di Margomulyo, Sugihwaras, Ngancar, Kediri, Senin (22/10) menjelaskan, gempa bumi tektonik berkekuatan 5,4 skala richter terjadi pada posisi di Samudera Indonesia, sekitar 115 kilo meter barat daya kota Blitar dengan kedalaman 10 kilometer. [070/A-18]


Lanjut baca sambungan di halaman: 1 2


Komentar Pembaca