Cuplikan Pengantar Penulis:
Novel
ini adalah kisah nyata semua bentuk penjajahan Indonesia di Papua.
Dalam kisah ini, saya menempatkan diri dalam dua posisi sekaligus,
yaitu sebagai korban dan sebagai saksi. Saya menjadi korban dengan dua
alasan. Pertama, karena saya mengalaminya sendiri. Kedua,
karena dialami pula oleh nenek moyang dan saudara-saudari sebangsa saya
yang antara mereka dan saya terikat oleh "darah" biologis dan
kebangsaan. Saya menjadi saksi karena semuanya terjadi di depan mata
saya dan diceritakan secara turun-temurun oleh orang tua saya dan nenek
moyang kami sebelumnya.
Beban sebagai korban dan saksi tidak dapat saya pendam. Ya, ibaratnya bom waktu yang hanya menunggu waktunya untuk meledak. Ketidakmampuan saya sebagai manusia untuk meredam semuanya, akhirnya meledak dalam novel ini, walau saya sadari bahwa saya – sebagaimana semua orang Papua – dipaksa untuk meredam semua duka nestapa itu dalam dekapan bedil, sepatu lars, pisau sangkur dan api dan berbagai cemoohan konyol lainnya. Saya tidak perduli sama sekali dan malas tahu dengan bentuk pertanggung jawaban yang diminta oleh negara ini kepada saya jika dianggap "pemberontak" atau "separatis" atau "subversi" dengan menceritakan kisah penderitaan saya dan bangsa saya.
Saya menceritakan semua duka nestapa yang saya alami dan saya saksikan sesuai dengan perjalanan waktu sejak saya dilahirkan dengan identias saya sendiri hingga sekarang ini. Semua kekerasan dan cemoohan yang sering berakhir pada kematian "atas nama" kedaulatan negara dan kesatuan bangsa dapat dibaca dalam setiap penggal novel ini.