A. AKSI MANUKWARI
Dalam beberapa pekan lalu saya menulis sebagai catatan khusus buat Saudara HW, namun inti pesan yang ingin disampaikan sesungguhnya umum bagi pejuang pergerakan Papua. Tulisan ini sebagai kelanjutan dari tulisan itu, dan selebihnya menyikapi beberapa aksi di kota Manukwari sebagai suatu cacatan kritis.
Tuntutan referendum oleh "segelintir" mahasiswa dikota sejarah pergerakan OPM , Manukwari, (pemberentotakan bersenjata paling pertama OPM dipimpin Rumkorem di kota ini), menunjukkan tidak terencana dan terkoordinasi secara menyeluruh, tapi lagi-lagi hanya parsial. Hal ini dibuktikan oleh tiadanya aksi sama oleh organ perjuangan mahasiswa semisal AMP, Front PEPERA, AMPTPI dll secara serentak. Bahkan aksi di Manukwari terkesan secara sendirian karena tidak diikuti sejumlah mahasiswa dikota study Papua sendiri misalnya UNCEN Jayapura, dan lain-lain di Papua.
Malahan AMP surabaya mengganggap ada pihak yang mengatasnamakan mahasiswa karena tidak melakukan koordinasi semua element perjuangan mahasiswa Papua di sejumlah kota study baik di tanah jajahan maupun di lain kota Indonesia (lihat dimilis ini perbedaan pendapat antara AMP Surabaya dan Herman Wainggai). Alasan dibelakang AMP Surabaya terhadap saudara HW dan SONAMAPA-nya dalam perdebatan kecil itu, bahwa SONAMPA, belum membangun basis gerakan massa lebih dulu agar dapat bergerak secara serentak dan diikuti seluruh kekuatan rakyat Papua, sehingga mendapatkan hasil maksimal, tidak partial sebagaimana selalu nyata selama ini.
B. SIKLUS PERMASALAHAN
Segelintir, demikian kata yang cocok di lekatkan pada aksi mahasiswa yang disponsori oleh Sonamapa di kota Pertanian dan sekaligus kota sejarah OPM, Manukwari, dalam waktu-waktu ini yang ramai di bicarakan orang dalam milis ini dan diliput media massa. (namun peliputan media massa aksi mahasiswa dikoordinasikan di Manukwari kurang menjadi perhatian atau jarang diliput media Indonesia, malahan head line media-media nasional sepi dari peliputan aksi demonstrasi ibu kota propinsi kedua negara boneka buatan penjajah itu.
Mengapa media Nasional Indonesia baik elektronik maupun cetak, sepi dalam peliputan aksi mahasiswa yang di koordinasikan Sonamapa di Manukwari? Ada beberapa alasan menjadi sepi dari peliputan dan perhatian madia dan akhirnya opini public Indonesia tidak maksimal berkembang sebagaimana diharapkan tentang masalah apa Papua, referendum, Otsus Papua gagal dan lain sebagainya, boleh jadi hal itu menjadi demikian. Diantara alasan itu adalah sebagai berikut :
Aksi Sonamapa tidak melibatkan semua segment perjuangan mahasiswa secara menyeluruh semua kota study dan terutama organ perjuangan yang selama ini sering turun kejalan. Sosialisasi program kerja dan visi misi WPNA pada segment mahasiswa didalam negeri oleh Sonamapa kurang ke sejumlah organ-organ perjuangan mahasiswa dan juga sejumlah kampus di dalam negeri Papua.
Sonamapa melakukan kerja aksi secara terburu-buru tanpa pembangunan basis massa agar penguatan di akar rumput rakyat termasuk koordinasi dengan lembaga-lembaga perjuangan yang sudah survive selama ini
Aksi mahasiswa Sonamapa Manukwari menjadi lemah dan gagal didukung oleh semua gerakan perjuangan Papua. Akhirnya sepi dari peliputan media massa dan tanpa perhatian serius oleh rakyat Papua, sehingga didukung oleh semua organ perjuangan Papua. Perjuangan yang dikoordinasikan Sonamapa akhirnya pincang, parsial, tidak konfrehenship sekaligus.
Padahal jika diperhatikan program kerja serta visi misi WPNA dimilis Simpa yang lalu cukup indah, sistematis, teorogganisir, terstruktur rapi dan itu mumuaskan kita semua yang selama ini mengerti betul akan kelemahann sendiri dalam mengorganisir gerakan secara mapan dan sistematis yang dialami gerakan Papua merdeka. Namun aksi tanpa melibatkan semua element perjuangan dan pembangunan basis massa secara kuat di akar rumput hasilnya mau diketahui di sini adalah gagal lagi yang kesekian kalinya.
Siklus permasalahan ini sudah saya sampaikan beberapa waktu yang lalu, bahwa pergerakan dianggap matang dan memadai pada dirinya apabila di dukung oleh seluruh rakyat (mahasiswa, intelektual, agamawan, petani dan semua organ gerakan terkoordinasi) adalah kerja koordinasi dan organisasi selevel WPNA yang merepresentasikan diri dari sebuah negara yang diidealkan yang diimpikan bernama negara Papua Barat itu. Dan kemampuan bagaimana berkoordinasi dengan sesama pejuang, mahasiswa, dan rakyat akar rumput dapat berhasil, jika tidak pasti gagal dan kita hanya mengantarkan beberapa anak-anak mahasiswa kita ke penjara penjajah lagi.
Padahal apa yang mau dimaksudkan dan itu dipaparkan dalam program kerja dan visi misi WPNA sesungguhnya luar biasa sangat bagus, bahkan tidak kurang dari Dr Don Flassy mengapresiasi susunan program kerja dan visi misi WPNA itu sebagai sebuah gerakan perjuangan paling sistematis, modern, terstruktur dan mapan. Sehingga susunan program WPNA adalah organisasi terbaik yang pernah ada sesudah kongres ke II Papua dan dimiliki orang Papua. (walau saya menganggap keanggotaan hanya segelintir menjadi primordial, tidak merepresentasikan cultural bangsa Papua sesungguhnya, karena dari gunung penduduk Papua dominan selama ini diketahui tidak terakomodasi dalam struktur organisasi WPNA).
Namun sayang sekali hal itu tidak ditunjang oleh pembangunan dan penguatan gerakan massa diakar rumput. Masalahnya adalah ketika mahasiswa menggelar aksi, misalnya juga di Manukwari oleh Sonamapa, hal itu tidak ditunjang oleh mahasiswa lain di masing-masing kota study, demikian juga oleh seluruh rakyat Papua, rakyat sibuk urus pemekaran dan elit juga sibuk lobby pemekaran ke Jakarta dan yang lain sibuk cari makan, cari kerja dalam otsus Papua dengan uang melimpah, ketimbang berurusan dengan penjara dan mati ditembak TNI atau dituduh pasal makar penjajah dan lain-lain stigma separatisme menakutkan sebagaimana selama ini.
Ini berarti aksi Sonamapa lagi-lagi terjebak pada parsialisme gerakan perjuangan Papua tanpa perencanaan matang (koordinasi, konsolidasi, sosialisasi sesama organ perjuangan, seperti PDP, DAP, DEMMAK, TPN, OPM dan Front PEPERA, AMP, AMPTPI dan sejumlah kampus di tanah Jajahan serta seluruh rakyat tanah Air Papua. Dan akhirnya sebagai akibatnya hanya mengantarkan beberapa putra terbaik bangsa Papua bersemangat tinggi berjuang untuk tinggal mendekam di penjara. Karena Sonamapa tidak lakukan kerja matang dan mantap berhasil sebagai sayap dari WPNA sebagaimana paparan program kerja, atau melakukan program kerjanya WPNA, namun dalam aksi dilapangan tanpa didukung semua element kekuatan, misalnya Dewan Adat, PDP, TPN,OPM, DEMMAK, Front PEPERA, AMPTPI, AMP dll sudah lama berdiri ditengah rakyat.
Padahal aksi perjuangan kemerdekaan selalu diingatkan selama ini yaitu HARUS MELALUI PERENCANAAN MATANG, SERENTAK, TERKOORDINASI SEMUA ORGAN PERJUANGAN, agar aksi dan pengorbanan tidak sia-sia dan memakan waktu lama lagi, jalan menuju pembebasan Papua secara menyeluruh. Aksi dapat berhasil guna apabila dapat terkoordinasi secara baik dan aksi sama digelar seluruh kota study oleh mahasiswa dan rakyat seluruh di tanah jajahan. Tanpa ada koordinasi dan serentak melibatkan semua kpmponent perjuangan, hanya membunuh diri, gagal akhirnya hanya mengantarkan beberapa orang di penjara penjajah.
Tapi akan menjadi berbeda misalnya suatu gerakan dikoordinasikan oleh sebuah organisasi yang melibatkan semua organ perjuangan di berbagai segmen lainnya, maka aksi demikian dan cara kerja yang diharapkan demikian itu hasilnya akan berbeda yaitu memperpendek jarak dan waktu, jalan menunju Papua merdeka. Kalau aksi mahasiswa Sonamapa Manukwari didukung dan berkoordinasi seluruh element gerakan perjuang seluruh kota study, jalan menuju Papua hanya selangkah lagi, sebab hal demikian di Amerika sana juga di lakukan oleh Mavega dan Donald Payne agar soal
Papua ditetapkan dalam sidang tahunan organisasi dunia PBB.
C. JALAN MASIH PANJANG
Jika Sonamapa tidak berkoordinasi dan memusatkan perjuangan hanya dikota Manukwari, dan mahasiswa di kota study lain diam, maka jalan menju Papua Merdeka masih panjang, sebab hal itu akibatnya hanya mengantarkan beberapa putra terbaik Papua ke penjara kolonial dengan pasal makar. Oleh sebab itu sesuai dengan beberapa program kerja dan visi dan misi WPNA disebarkan dimilis ini, beberapa waktu lalu, maka sebaiknya aksi dan gerakan dimulai secara serentak terkoordinasi agar didukung oleh semua element pejuang Papua. Hal demikian akan menjadi perhatian peliputan media nasional dan internasional, sebagai sarana pembangunan opini, sehingga sekaligus mempermudah masuknya masalah Papua pada agenda pembahasan sidang PBB tahunan.
Jika aksi kemerdekaan secara serentak seluruh negeri, maka soal Papua menjadi perhatian internasional dan PBB akan lebih berarati ketimbang hanya segeleintir anak-anak mahasiswa seperti saat ini terjadi di Manukwari dan dituduhkan pasal makar, dan kita yang lain diam seakan tidak perduli pada saudara, anak-anak kita, para pejuang muda Papua, masuk penjara, selesai itu masalah didiamkan lagi, mereka tetap dipenjara dan masalah Papua tidak masuk agenda sidang PBB menjadi rugi dua kali lipat. Akhirnya jalan menuju Papua menjadi terulur-ulur terus. Akhirnya jalan menuju Papua merdeka masih panjang.
AKSI MANUKWARI: Perjalanan Masih Panjang
Oleh I. Asso