Jika Sonamapa tanpa didukung oleh semua element gerakan perjuangan di tanah air, maupun mahasiswa lain di semua kota study. Maka jalan menuju Papua merdeka masih panjang, kita selalu saja belum pernah sampai, tiba di terminal akhir, kita baru tiba di ujung jalan ini, kita sesat jalan, kita sendirian, tidak ada kompas dan penunjuk jalan, namun belum begitu sampai pada tujuan yang kita tuju kita telah bercerai ditengah jalan, bagai antara diri saya sendiri dan teman sendiri. Kalau kita bersama seiring-sejalan, maka kita akan tiba senang sampai dirumah bapak-mama, orang tua. Tapi karena kita bercerai kita bukan bahagia tiba dirumah tapi juga sesat jalan akhirnya kita belum tiba juga dirumah. Makanan persiapan dimakan tamu lain, yang tersisa kita, yang hilang entah dimana disitu.
Jika demikian yang selalu dan senantiasa didapati dalam pergerakan perjuangan Papua maka selain jalan masih panjang, kita sesugguhnya menempuh jalan membinasakan diri. Kepada kapitalis dan kolonialis bagai mendapat terus kesempatan meperpanjang prestasi kejahatannya pada diri kita. Kita ibarat lilin memberi manfaat sinarnya pada orang lain tapi dirinya habis termakan api. Kita jika melakukan perlawanan pada penjajah kalau tidak serentak, kompak, bersama, semua kekuatan organ perjuangan maka sama saja kita bunuh diri, memberi kesempatan penjajah untuk terus menjajah kita tapi juga kita sendiri terus dipunahkan dan tanah air serta kekayaannya secara rakus ditelan habis penjajah secara pelan tapi pasti terus-menerus dihabisi untuk dipunahkan selamanya.
D. POTONG KOMPAS
Tidak bisa tidak! Jalan memperpendek perjuangan adalah membangun gerakan perjuangan dengan kerja organisasi, persis mau dimaksudkan disini adalah kerja dan program yang sudah dipaparkan oleh WPNA dimilis ini beberapa minggu yang lalu. Hanya kelemehannya adalah jika hal itu dalam praktek lapangan tidak ditindak-lanjuti secara bersama oleh rakyat secara terkoordinasi dan juga struktur organisasi harus merepresentasikan sosiologis Papua. Demikian juga apa yang dicoba lakukan oleh Sonamapa di Manukwari, adalah sangat riskan, adalah kesalahan dalam menerjemahkan suatu program kerja yang disusun secara baik namun jika tidak ditunjang oleh pelaku pemegang mandat program dilapangan maka hasilnya sama saja seperti mengantarkan beberapa teman ke penjara kolonial.
Sonapa masih punya kesempatan terus membangun konsolidasi dan berkoordinasi terus dengan semua element gerakan utamanya dari mahasiswa seperti Front PEPERA, AMP, AMPTPI, dan rakyat Papua Demmak, TPN/OPM, PDP, Dewan Adat Papua, dll. Maka sungguh, jalan menuju Papua Merdeka pendek. Jalan pintas menuju Papua merdeka akan segera sampai, kita akan segera tiba di stasion akhir perjalanan perjuangan selama ini yang cukup panjang dan melelahkan. Dengan koordinasi akan melahirkan aksi serentak, kita itu artinya sama saj potong kompas, untuk ceoat segera sampai pada tujuan, jalan menuju pembebasan Papua. Karena cara kerja demikian lebih prospektif daripada kerja bakti sendirian, namun hasilnya selalu gagal karena sporadis dan partial sebagaimana sebelum ini selalu.
Kerja koordinasi, terprogram, terkonsolidasi, dengan milibatkan semua penduduk, organisasi perjuangan, melakukan aksi serentak, sesungguhnya tidak lain dari potong kompas atau memperpendek jalan panjang perjuangan, karena aksi serentak melibatkan seluruh rakyat Papua itu akan segera dielaborasi dua anggota kongres Amerika dan Forum Pasifik utamanya Vanuatu tetap akan mendorong sebagai solidaritas Melanesia dalam sidang PBB, tentu semua negara Afrika dan Amerika Tengah (black Caukus), diharapkan akan mendukung Papua dalam sidang tahunannya nanti. Aksi pelibatan seluruh rakyat secara serentak juga akan mempengaruhi perhatian internasional dan
peliputan media massa, sangat berpengaruh diagendakan pembahasan dalam agenda di PBB atau didukung anggota negara sangat ditentukan disini.
Untuk tujuan ini maka elaborasi aksi yang dimulai Manukwari oleh Sonamapa, harus didukung dan diikuti aksi sama oleh semua mahasiswa dan rakyat dengan tuntutan sama yaitu referendun dengan mengembalikan otsus Papua menjadi alasan sangat masuk akal dan kesempatan Papua kalau mau menuju jalan pintas membebaskan diri dari kehinaan dan penistaan para penjajah. Hanya lagi kurang diperhatikan Sonamapa kemarin adalah tanpa koordinasi dan mendorong kawan seperjuangan lain melakukan aksi sama di masing-masing tempat adalah kelemahan Sonamapa. Jika dikoordinasi dan semua konsolidasi dalam satu barisan perjuangan Papua menolak Otsus Papua dan minta gelar referendum, pasti Jakarta kelabakan dibuatnya.
Disini berarti kita berbicara soal bagaimana mengakhiri nasib tak tentu Papua, tidak hanya berharap pada dua kongresmen Amerika itu saja yang menguntungkan kita itu tapi kita sendiri melakukan apa, baik di kota study bagi mahasiswa Papua dan rakyat sendiri ditanah jajahan, adalah suatu keniscayaan kalau bukan kewajiban kita saat ini. Jikalau Papua mau merdeka segera sekarang maka satu-satunya jalan yang terbuka lebar adalah melanjutkan dan menindak lanjuti aksi-aksi sama secara serentak di seluruh penjuru negeri dengan persiapan dan mematangkan rencana secara menyeluruh dan serentak diseluruh pelosok negeri dan kota study diman orang Papua berada.
E. KESIMPULAN
Sebelum tulisan ini mau diakhiri disini, ingin mengomentari dulu aksi Sonamapa dan program kerja WPNA yang sudah bagus itu begini kelemahannya : Aksi mahasiswa Manukwari sudah seharusnya, hanya kelemahannya, Pertama, tidak di tindaklanjuti mahasiswa di kota study lain. Kedua, tingkat kooordinasi dan konsolidasi antar sesama element perjuangan kurang diperhatikan. Hal ini terlihat dari kurang atau malah sama sekali aksi sama mahsiswa atau rakyat Papua. Ketiga, Tidak ada peliputan media massa ditingkat nasional, malahan sepi dari perhatian publik.
AKSI MANUKWARI: Perjalanan Masih Panjang
Oleh I. Asso Sphere: Related Content