Artikel dari  icon

AKSI MANUKWARI: Perjalanan Masih Panjang

Diposkan di: Kolum, Lawan Neokoloni
Oleh Koteka Webmaster
Mar 24, 2008 - 3:14:55 AM
Cetak Halaman ini
Oleh I. Asso A. AKSI MANUKWARI

Dalam beberapa pekan lalu saya menulis sebagai catatan khusus buat Saudara HW, namun inti pesan yang ingin disampaikan sesungguhnya umum bagi pejuang pergerakan Papua. Tulisan ini sebagai kelanjutan dari tulisan itu, dan selebihnya menyikapi beberapa   aksi di kota Manukwari sebagai suatu cacatan kritis.

Tuntutan referendum oleh "segelintir" mahasiswa dikota sejarah pergerakan OPM , Manukwari, (pemberentotakan bersenjata paling pertama OPM dipimpin Rumkorem di kota ini), menunjukkan tidak terencana dan terkoordinasi secara menyeluruh, tapi lagi-lagi hanya parsial. Hal ini dibuktikan oleh tiadanya aksi sama oleh organ perjuangan mahasiswa semisal AMP, Front PEPERA, AMPTPI dll secara serentak. Bahkan aksi di Manukwari terkesan secara sendirian karena tidak diikuti sejumlah mahasiswa dikota study Papua sendiri misalnya UNCEN Jayapura, dan lain-lain di Papua.

Malahan AMP surabaya mengganggap ada pihak yang mengatasnamakan mahasiswa karena tidak melakukan koordinasi semua element perjuangan mahasiswa Papua di sejumlah kota study baik di tanah jajahan maupun di lain kota Indonesia (lihat dimilis ini perbedaan pendapat antara AMP Surabaya dan Herman Wainggai). Alasan dibelakang AMP Surabaya terhadap saudara HW dan SONAMAPA-nya dalam perdebatan kecil itu, bahwa SONAMPA, belum membangun basis gerakan massa lebih dulu agar dapat bergerak secara serentak dan diikuti seluruh kekuatan rakyat Papua, sehingga mendapatkan hasil  maksimal, tidak partial sebagaimana selalu nyata selama ini.

B. SIKLUS PERMASALAHAN

Segelintir, demikian kata yang cocok di lekatkan pada aksi mahasiswa yang disponsori oleh Sonamapa di kota Pertanian dan sekaligus kota sejarah OPM, Manukwari, dalam waktu-waktu ini yang ramai di bicarakan orang dalam milis ini dan diliput media massa. (namun peliputan media massa aksi mahasiswa dikoordinasikan di Manukwari kurang menjadi perhatian atau jarang diliput media Indonesia, malahan head line media-media nasional sepi dari peliputan aksi demonstrasi ibu kota propinsi kedua negara boneka buatan penjajah itu.

Mengapa media Nasional Indonesia baik elektronik maupun cetak, sepi dalam peliputan aksi mahasiswa yang di koordinasikan Sonamapa di Manukwari? Ada beberapa alasan menjadi sepi dari peliputan dan perhatian madia dan akhirnya opini public Indonesia tidak maksimal berkembang sebagaimana diharapkan tentang masalah apa Papua, referendum, Otsus Papua gagal dan lain sebagainya, boleh jadi hal itu menjadi demikian. Diantara alasan itu adalah sebagai berikut :

Aksi Sonamapa tidak melibatkan semua segment perjuangan mahasiswa secara menyeluruh semua kota study dan terutama organ perjuangan yang selama ini sering turun kejalan. Sosialisasi program kerja dan visi misi WPNA pada segment mahasiswa didalam negeri oleh Sonamapa kurang ke sejumlah organ-organ perjuangan mahasiswa dan juga sejumlah kampus di dalam negeri Papua.

Sonamapa melakukan kerja aksi secara terburu-buru tanpa pembangunan basis massa agar penguatan di akar rumput rakyat termasuk koordinasi dengan lembaga-lembaga perjuangan yang sudah survive selama ini

Aksi mahasiswa Sonamapa Manukwari menjadi lemah dan gagal didukung oleh semua gerakan perjuangan Papua. Akhirnya sepi dari peliputan media massa dan tanpa perhatian serius oleh rakyat Papua, sehingga didukung oleh semua organ perjuangan Papua. Perjuangan yang dikoordinasikan  Sonamapa akhirnya pincang, parsial, tidak konfrehenship sekaligus.

Padahal jika diperhatikan program kerja serta visi misi WPNA dimilis Simpa yang lalu cukup indah, sistematis, teorogganisir, terstruktur rapi dan itu mumuaskan kita semua yang selama ini mengerti betul akan kelemahann sendiri dalam mengorganisir gerakan secara mapan dan sistematis yang dialami gerakan Papua merdeka. Namun aksi tanpa melibatkan semua element perjuangan dan pembangunan basis massa secara kuat di akar rumput hasilnya mau diketahui di sini adalah gagal lagi yang kesekian kalinya.

Siklus permasalahan ini sudah saya sampaikan beberapa waktu yang lalu, bahwa pergerakan dianggap matang dan memadai pada dirinya apabila di dukung oleh seluruh rakyat (mahasiswa, intelektual, agamawan, petani dan semua organ gerakan terkoordinasi) adalah kerja koordinasi dan organisasi selevel WPNA yang merepresentasikan diri dari sebuah negara yang diidealkan yang diimpikan bernama negara Papua Barat itu. Dan kemampuan bagaimana berkoordinasi dengan sesama pejuang, mahasiswa, dan rakyat akar rumput dapat berhasil, jika tidak pasti gagal dan kita hanya mengantarkan beberapa anak-anak mahasiswa kita ke penjara penjajah lagi.

Padahal apa yang mau dimaksudkan dan itu dipaparkan dalam program kerja dan visi misi WPNA sesungguhnya luar biasa sangat bagus, bahkan tidak kurang dari Dr Don Flassy mengapresiasi susunan program kerja dan visi misi WPNA itu sebagai sebuah gerakan perjuangan paling sistematis, modern, terstruktur dan mapan. Sehingga susunan program WPNA adalah organisasi terbaik yang pernah ada sesudah kongres ke II Papua dan dimiliki orang Papua. (walau saya menganggap keanggotaan hanya segelintir menjadi primordial, tidak merepresentasikan cultural bangsa Papua sesungguhnya, karena dari gunung penduduk Papua dominan selama ini diketahui tidak terakomodasi dalam struktur organisasi WPNA).

Namun sayang sekali hal itu tidak ditunjang oleh pembangunan dan penguatan gerakan massa diakar rumput. Masalahnya adalah ketika mahasiswa menggelar aksi, misalnya juga di Manukwari oleh Sonamapa, hal itu tidak ditunjang oleh mahasiswa lain di masing-masing kota study, demikian juga oleh seluruh rakyat Papua, rakyat sibuk urus pemekaran dan elit juga sibuk lobby pemekaran ke Jakarta dan yang lain sibuk cari makan, cari kerja dalam otsus Papua dengan uang melimpah, ketimbang berurusan dengan penjara dan mati ditembak TNI atau dituduh pasal makar penjajah dan lain-lain stigma separatisme menakutkan sebagaimana selama ini.

Ini berarti aksi Sonamapa lagi-lagi terjebak pada parsialisme gerakan perjuangan Papua tanpa perencanaan matang (koordinasi, konsolidasi, sosialisasi sesama organ perjuangan, seperti PDP, DAP, DEMMAK, TPN, OPM dan Front PEPERA, AMP, AMPTPI dan sejumlah kampus di tanah Jajahan serta seluruh rakyat tanah Air Papua. Dan akhirnya sebagai akibatnya hanya mengantarkan beberapa putra terbaik bangsa Papua bersemangat tinggi berjuang untuk tinggal mendekam di penjara. Karena Sonamapa tidak lakukan kerja matang dan mantap berhasil sebagai sayap dari WPNA sebagaimana paparan program kerja, atau melakukan program kerjanya WPNA, namun dalam aksi dilapangan tanpa didukung semua element kekuatan, misalnya Dewan Adat, PDP, TPN,OPM, DEMMAK, Front PEPERA, AMPTPI, AMP dll sudah lama berdiri ditengah rakyat.

Padahal aksi perjuangan kemerdekaan selalu diingatkan selama ini yaitu HARUS MELALUI PERENCANAAN MATANG, SERENTAK, TERKOORDINASI SEMUA ORGAN PERJUANGAN, agar aksi dan pengorbanan tidak sia-sia dan memakan waktu lama lagi, jalan menuju pembebasan Papua secara menyeluruh. Aksi dapat berhasil guna apabila dapat terkoordinasi secara baik dan aksi sama digelar seluruh kota study oleh mahasiswa dan rakyat seluruh di tanah jajahan.  Tanpa ada koordinasi dan serentak melibatkan semua kpmponent perjuangan, hanya membunuh diri, gagal akhirnya hanya mengantarkan beberapa orang di penjara penjajah.

Tapi akan menjadi berbeda misalnya suatu gerakan dikoordinasikan oleh sebuah organisasi yang melibatkan semua organ perjuangan di berbagai segmen lainnya, maka aksi demikian dan cara kerja yang diharapkan demikian itu hasilnya akan berbeda yaitu memperpendek jarak dan waktu, jalan menunju Papua merdeka. Kalau aksi mahasiswa Sonamapa Manukwari didukung dan berkoordinasi seluruh element gerakan perjuang seluruh kota study, jalan menuju Papua hanya selangkah lagi, sebab hal demikian di Amerika sana juga di lakukan oleh Mavega dan Donald Payne agar soal
Papua ditetapkan dalam sidang tahunan organisasi dunia PBB.

C. JALAN MASIH PANJANG

Jika Sonamapa tidak berkoordinasi dan memusatkan perjuangan hanya dikota Manukwari, dan mahasiswa di kota study lain diam, maka jalan menju Papua Merdeka masih panjang, sebab hal itu akibatnya hanya mengantarkan beberapa putra terbaik Papua ke penjara kolonial dengan pasal makar. Oleh sebab itu sesuai dengan beberapa program kerja dan visi dan misi WPNA disebarkan dimilis ini, beberapa waktu lalu, maka sebaiknya aksi dan gerakan dimulai secara serentak terkoordinasi agar didukung oleh semua element pejuang Papua. Hal demikian akan menjadi perhatian peliputan media nasional dan internasional, sebagai sarana pembangunan opini, sehingga sekaligus mempermudah masuknya masalah Papua pada agenda pembahasan sidang PBB tahunan.

Jika aksi kemerdekaan secara serentak seluruh negeri, maka soal Papua menjadi perhatian internasional dan PBB akan lebih berarati ketimbang hanya segeleintir anak-anak mahasiswa seperti saat ini terjadi di Manukwari dan dituduhkan pasal makar, dan kita yang lain diam seakan tidak perduli pada saudara, anak-anak kita, para pejuang muda Papua, masuk penjara, selesai itu masalah didiamkan lagi, mereka tetap dipenjara dan masalah Papua tidak masuk agenda sidang PBB menjadi rugi dua kali lipat. Akhirnya jalan menuju Papua menjadi terulur-ulur terus. Akhirnya jalan menuju Papua merdeka masih panjang.

Jika Sonamapa tanpa didukung oleh semua element gerakan perjuangan di tanah air, maupun mahasiswa lain di semua kota study. Maka jalan menuju Papua merdeka masih panjang, kita selalu saja belum pernah sampai, tiba di terminal akhir, kita baru tiba di ujung jalan ini, kita sesat jalan, kita sendirian, tidak ada kompas dan penunjuk jalan, namun belum begitu sampai pada tujuan yang kita tuju kita telah bercerai ditengah jalan, bagai antara diri saya sendiri dan teman sendiri. Kalau kita bersama seiring-sejalan, maka kita akan tiba senang sampai dirumah bapak-mama, orang tua. Tapi karena kita bercerai kita bukan bahagia tiba dirumah tapi juga sesat jalan akhirnya kita belum tiba juga dirumah. Makanan persiapan dimakan tamu lain, yang tersisa kita, yang hilang entah dimana disitu.

Jika demikian yang selalu dan senantiasa didapati dalam pergerakan perjuangan Papua maka selain jalan masih panjang, kita sesugguhnya menempuh jalan membinasakan diri. Kepada kapitalis dan kolonialis bagai mendapat terus kesempatan meperpanjang prestasi kejahatannya pada diri kita. Kita ibarat lilin memberi manfaat sinarnya pada orang lain tapi dirinya habis termakan api. Kita jika melakukan perlawanan pada penjajah kalau tidak serentak, kompak, bersama, semua kekuatan organ perjuangan maka sama saja kita bunuh diri, memberi kesempatan penjajah untuk terus menjajah kita tapi juga kita sendiri terus dipunahkan dan tanah air serta kekayaannya secara rakus ditelan habis penjajah secara pelan tapi pasti terus-menerus dihabisi untuk dipunahkan selamanya.

D. POTONG KOMPAS

Tidak bisa tidak! Jalan memperpendek perjuangan adalah membangun gerakan perjuangan dengan kerja organisasi, persis mau dimaksudkan disini adalah kerja dan program yang sudah dipaparkan oleh WPNA dimilis ini beberapa minggu yang lalu. Hanya kelemehannya adalah jika hal itu dalam praktek lapangan tidak ditindak-lanjuti secara bersama oleh rakyat secara terkoordinasi dan juga struktur organisasi harus merepresentasikan sosiologis Papua. Demikian juga apa yang dicoba lakukan oleh Sonamapa di Manukwari, adalah sangat riskan, adalah kesalahan dalam menerjemahkan suatu program kerja yang disusun secara baik namun jika tidak ditunjang oleh pelaku pemegang mandat program dilapangan maka hasilnya sama saja seperti mengantarkan beberapa teman ke penjara kolonial.

Sonapa masih punya kesempatan terus membangun konsolidasi dan berkoordinasi terus dengan semua element gerakan utamanya dari mahasiswa seperti Front PEPERA, AMP, AMPTPI, dan rakyat Papua Demmak, TPN/OPM, PDP, Dewan Adat Papua, dll. Maka sungguh, jalan menuju Papua Merdeka pendek. Jalan pintas menuju Papua merdeka akan segera sampai, kita akan segera tiba di stasion akhir perjalanan perjuangan selama ini yang cukup panjang dan melelahkan. Dengan koordinasi akan melahirkan aksi serentak, kita itu artinya sama saj potong kompas, untuk ceoat segera sampai pada tujuan, jalan menuju pembebasan Papua. Karena cara kerja demikian lebih prospektif daripada kerja bakti sendirian, namun hasilnya selalu gagal karena sporadis dan partial sebagaimana sebelum ini selalu.

Kerja koordinasi, terprogram, terkonsolidasi, dengan milibatkan semua penduduk, organisasi perjuangan, melakukan aksi serentak, sesungguhnya tidak lain dari potong kompas atau memperpendek jalan panjang perjuangan, karena aksi serentak melibatkan seluruh rakyat Papua itu akan segera dielaborasi dua anggota kongres Amerika dan Forum Pasifik utamanya Vanuatu tetap akan mendorong sebagai solidaritas Melanesia dalam sidang PBB, tentu semua negara Afrika dan Amerika Tengah (black Caukus), diharapkan akan mendukung Papua dalam sidang tahunannya nanti. Aksi pelibatan seluruh rakyat secara serentak juga akan mempengaruhi perhatian internasional dan
peliputan media massa, sangat berpengaruh diagendakan pembahasan dalam agenda di PBB atau didukung anggota negara sangat ditentukan disini.

Untuk tujuan ini maka elaborasi aksi yang dimulai Manukwari oleh Sonamapa, harus didukung dan diikuti aksi sama oleh semua mahasiswa dan rakyat dengan tuntutan sama yaitu referendun dengan mengembalikan otsus Papua menjadi alasan sangat masuk akal dan kesempatan Papua kalau mau menuju jalan pintas membebaskan diri dari kehinaan dan penistaan para penjajah. Hanya lagi kurang diperhatikan Sonamapa kemarin adalah tanpa koordinasi dan mendorong kawan seperjuangan lain melakukan aksi sama di masing-masing tempat adalah kelemahan Sonamapa. Jika dikoordinasi dan semua konsolidasi dalam satu barisan perjuangan Papua menolak Otsus Papua dan minta gelar referendum, pasti Jakarta kelabakan dibuatnya.

Disini berarti kita berbicara soal bagaimana mengakhiri nasib tak tentu Papua, tidak hanya berharap pada dua kongresmen Amerika itu saja yang menguntungkan kita itu tapi kita sendiri melakukan apa, baik di kota study bagi mahasiswa Papua dan rakyat sendiri ditanah jajahan, adalah suatu keniscayaan kalau bukan kewajiban kita saat ini. Jikalau Papua mau merdeka segera sekarang maka satu-satunya jalan yang terbuka lebar adalah melanjutkan dan menindak lanjuti aksi-aksi sama secara serentak di seluruh penjuru negeri dengan persiapan dan mematangkan rencana secara menyeluruh dan serentak diseluruh pelosok negeri dan kota study diman orang Papua berada.

E. KESIMPULAN

Sebelum tulisan ini mau diakhiri disini, ingin mengomentari dulu aksi Sonamapa dan program kerja WPNA yang sudah bagus itu begini kelemahannya : Aksi mahasiswa Manukwari sudah seharusnya, hanya kelemahannya, Pertama, tidak di tindaklanjuti mahasiswa di kota study lain. Kedua, tingkat kooordinasi dan konsolidasi antar sesama element perjuangan kurang diperhatikan. Hal ini terlihat dari kurang atau malah sama sekali aksi sama mahsiswa atau rakyat Papua. Ketiga, Tidak ada peliputan media massa ditingkat nasional, malahan sepi dari perhatian publik.

Padahal aksi sama oleh mahsiswa kota study lain penting, karena masih sangat relevant apalagi ada dua orang kongresman Amerika sudah menyurati Paitua SBY-JK, dan surat sama disampaikan Sekjen PBB agar masalah Papua di agendakan dalam sidang tahunan sehingga Papua menjadi agenda pembahasan sidang tahunan PBB nanti.  Jika aksi terus menerus digelar, ibarat kata Malcom X, "Jika kamu menginginkan sesuatu, maka buatlah "keonaran" sejadi-jadinya, maka pasti apa yang kau inginkan akan dapat".

Oleh sebab itu seharusnya aksi manukwari harus di teruskan dan kapan dan hari, tangal, bulan, apa secara serantak aksi bersama rakyat bangsa Papua siprogram kembali dengan melibatkan kalangan lebih luas atau kalau perlu seluruh rakyat Papua. Maka saya yakin perhatian dunia akan tertuju ke Papua dan akhirnya kita mengakhiri penjajahan sesegara mungkin untuk keluar dari penjara NKRI sebagai jalan pintasnya, menuju pembebasan Papua secara menyeluruh, merdeka. Diharapkan kedepan, disamping menunggu kepastian panitia summit Fasifik di Vanuatu, sebaiknya aksi-aksi Sonamapa harus didukung dan terus digelar diseluruh kota study oleh mahasiswa Papua dan oleh semua organ perjuangan tanpa kecuali. Demikian juga wajib di lakukan oleh organ perjuangan rakyat di tanah jajahan misalnya Demmak, PDP, Dewan Adat, OPM/TPN kota (seluruh rakyat Papua).

Tapi apakah kita sebelum ini sudah membangun perangkat untuk melibatkan semua rakyat sampai diakar rumput, semua kabupaten dua propinsi, pantai-pegunungan, utara-selatan, kota-kampung? Mohon maaf tulisan ini tidak memberikan sesuatu apa, solusi, hanya menambah masalah yang sudah menumpuk. Inti pesannya penulis disini sama dengan Sonamapa,jika masuk penjara maka semua penduduk masuk penjara lebih baik daripada hidup kaya dengan uang melimpah diera otsus tapi hina. Hanya satu pilihan bagi kita semua yaitu BANGKIT MELAWAN ATAU TUNDUK DITINDAS!.

Ismail Asso


© Copyright 2008 by PAPUAPost.com