Artikel dari  icon

INDONESIA:TAKUT SEBUAH YUM/NOKEN (Baca: Tas Papua), TAKUT SEBUAH BUKU PAPUA .. TAKUT AKAN KEBENARAN

Diposkan di: Kolum, Terorisme Negara
Oleh SPMNews Europe
Jan 30, 2008 - 1:26:35 AM
Cetak Halaman ini
Richard Samuelson Co-Director Free WP Campaign
[SPMNews - Europe]  Teks asli Bahasa Inggris di Infopapua.org, 18 January 2008, terjemahan SPMNews Europe.Mungkin tidak begitu menakutkan bagi anda atau saya, tetapi bagi Pemerintah Indonesia ini merupakan sebuah ancaman berbahaya bagi “Kesatuan Negara itu”. Tidak. Itu bukan sebuah letusan mesiu senjata atau sebuah ledakan dahsyat atau bahkan sebuah busur beserta panah-panahnya…… Itu hanyalah sebuah Noken/Yum (Tas Papua).

 

Kemarin di Jayapura, Papua Barat, dua wanita masing-masing Yohana Pekei dan Nelly Pigome diinterogasi oleh polisi Indonesia karena mereka membuat  noken/yum (Tas Papua) dan menjualnya hanya untuk mendapatkan beberapa peni (rupiah) untuk menunjang kehidupan keluarga mereka.

 

Apa yang begitu berbahaya dari sebuah tas yang dijual di pinggiran jalan oleh kedua wanita Papua Barat tersebut?

 

Jika saya memberitahu anda bahwa noken/yum (Tas Papua) tersebut memiliki lambang bintang sebagai bagian dari desain tas tersebut, mungkin sekarang anda dapat mengerti mengapa negara Indonesia begitu sangat ketakutan terhadap noken/yum (Tas Papua) yang khusus ini? BINGUNG? Baik. Perkenankanlah saya memberitahu anda bahwa Bintang Kejora  adalah simbol dari 45 tahun mimpi rakyat Papua Barat akan kemerdekaan mereka dari penjajahan Indonesia. Ketika sebuah negara tidak memperoleh dukungan dari seluruh populasi dari sebuah wilayah yang diklaim sebagai milik negara itu, maka ia tidak akan membiarkan sekecil apapun tanda-tanda perlawanan.

 

Jadi NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan segala kebesaran dan kekuatan militernya…. Sekarang KETAKUTAN terhadap sebuah NOKEN/YUM (Tas Papua). Sepuluh tahun setelah kejatuhan diktator Suharto, sebuah peristiwa yang seharusnya memberikan sebuah era keterbukaan dan demokrasi, Indonesia sekarang berjuang habis-habisan dalam usahanya untuk mempertahankan cengekeramannya atas wilayah Papua Barat.

 

Awal minggu ini, Barnabas Suebu, Gubernur Kolonial Indonesia di Papua Barat memerintahkan polisi untuk melaksanakan  peraturan perundang-undangan yang baru, pasal 6 peraturan pemerintah no 77 tahun 20007 yang menyatakan bahwa merupakan sebuah tindakan kriminal memamerkan, memajang, menjual atau menggunakan bendera atau logo yang digunakan oleh gerakan –gerakan separatis.1  Noken/Yum (Tas Papua) milik Yohana dan Nelly sekarang adalah sebuah Noken/Yum (Tas Papu) illegal.

 

Pada tahun 2004, dua aktivis kemerdekaan Papua Barat, Filep Karma dan Yusak Pakage dipenjarakan masing-masing 10 dan 15 tahun berturut-turut karena mengibarkan bendera Bintang Kejora secara damai. Sekarang giliran Yohana dan Nelly dicap oleh Indonesia sebagai para kriminal…… karena membuat dan menjual sebuah noken/yum (Tas Papua).

 

Pada bulan November yang lalu, Majalah TIME menganugerahi Suebu sebagai seorang Pahlawan Lingkungan Hidup karena janji-janjinya untuk memulai melindungi hutan-hutan tropis Papua Barat yang terancam. Minggu ini Suebu telah menunjukkan WARNA ASLINYA sebagai PAHLAWAN NASIONALISME INDONESIA.     

 

Dan Indonesia tidak hanya ketakutan karena noken/yum (Tas-tas Papua). Indonesia juga ketakutan akan buku-buku tentang Papua. Pada bulan Desember, Kejaksaan Agung Indonesia menyita 60 kopi buku dari seorang akademisi Papua, Sendius Wonda yang berjudul TENGGELAMNYA RUMPUN MELANESIA Pertarungan Politik NKRI di Papua Barat.

 

Buku itu menyesatkan, ia akan menciptakan perlawanan dan memecahkan masyarakat Papua kata Rudi Hartono kepala Badan Intelijen Indonesia (BIN) di Papua Barat. Kami akan terus mencari buku tersebut di toko-toko buku dan di berbagai tempat. 2

 

Dan inilah mengapa noken/Yum dari Yonana dan Nelly serta buku Sendius Wonda begitu menakutkan  bagi Pemerintah Indonesia; Mereka memberitakan KEBENARAN…. KEBENARAN yang tidak menyenangkan tetapi tidak dapat disangkal bahwa mayoritas rakyat Papua Barat menginginkan kemerdekaan dari Indonesia.

 

Anda dapat mengatakan bahwa saya dapat berkata demikian karena saya adalah aktivis dari Free West Papua Campain bukan? Baik. Jangan hanya dengar dari saya saja. Pada bulan Juni 2006 wartawan BBC koresponden Jakarta, Rachel Harvey, diberikan sebuah ijin yang langka oleh Pemerintah Indonesia untuk mengunjungi Papua Barat. Inilah yang dia katakan pada waktu kembali dari Papua:

 

SAYA TIDAK BERBICARA POLITIK DENGAN SETIAP ORAN PAPUA YANG SAYA TEMUI. TETAPI KAPAN SAJA TOPIK ITU  SELALU MUNCUL, DAN TOPIK ITU BERULANG-ULANG KEMBALI, SETIAP ORANG YANG SAYA TEMUI MEMBERITAHU SAYA BAHWA MEREKA MENGINGINKAN KEMERDEKAAN. 3

 

Dan pada bulan Februari tahun 2007, seorang akademisi senior bidang Ilmu Politik dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang berada langsung dibawah kendali Presiden Republik Indonesia) , Muridan S Widjoyo yang tidak seperti para akademisi asing, selalu mendapatkan keleluasaan oleh militer Indonesia untuk mengunjungi Papua,  memberikan pengakuan yang sungguh luar biasa bahwa:

 

AKAN TETAPI KITA HARUS SADAR BAHWA DIDALAM HATI YANG PALING DALAM, SETIAP ORANG PAPUA MENGINGINKAN KEMERDEKAAN DARI INDONESIA. 4

 

Dan untuk menyungguhkan semua pernyataan-pernyataan itu, bagaimana anda bisa ragu kalauGubernur Indonesia yang baru saja disebutkan tadi, Barnabas Suebu sendiri, berbicara pada tahun 2000, sebelum periode kekuasaannya Sekarang. Disini Suebu, orang yang sama yang pada minggu ini mendeklarasikan Noken/Yum (Tas Papua) dari Yohana dan Nelly illegal, diwawancarai Majalah TEMPO pada masa musim semi, periode dimana dimulainya masa keterbukaan ketika runtuhnya kediktatoran Suharto, sebuah era kebebasan yang secara kejam ditutup dengan pembunuhan Theys Eluay, pemimpin kemerdekaan bangsa Papua Barat oleh KOPASSUS pada bulan Nopember 2001.

 

TEMPO: Dalam pandangan anda, akankah rakyat Irian Jaya memilih Kemerdekaan atau Otonomi bila sebuah referendum dilaksanakan?

 

SUEBU: BERDASARKAN PENGAMATAN SAYA SENDIRI DI JAYAPURA, SAYA MERAMALKAN BAHWA   KEINGINAN  TERBESAR ADALAH KEMERDEKAAN. JADI INI SEBUAH MASALAH SERIUS. SAYA BERHARAP JANGAN ADA LAGI YANG MENGATAKAN BAHWA INI KEINGINAN DARI SEGELINTIR ORANG. MEREKA TIDAK MENERIMA OTONOMI….. MEREKA HANYA MAU KEMERDEKAAN……. RAKYAT PAPUA MENUNTUT KEMERDEKAAN TETAPI JAKARTA MENOLAKNYA…. RAKYAT PAPUA TELAH LAMA MERINDUKAN KEMERDEKAAN. 5

 

 Sebuah noken/yum  dan sebuah buku tentang Papua. Indonesia memang benar-benar ketakutan ……akan KEBENARAN.

 

CATATAN:
1.  Cenderawasih Pos, 11 JANUARI 2008 ‚Bintang Kejora dilarang: kata Suebu.
2. The  Jakarta Post 15 December 2007 “[Indonesian] Government Bans, Confiscates Book on Papuan Political Struggle”
3. Te Waha Nui Online 14 June 2006 “West Papuan clergyman to speak on human rights at seminar” http://www.tewahanui.info/news/140606_westpapua.shtml
4. Jakarta Post 1 February 2007 'Papuan Separatists not a threat'http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20070201.H05
5. Tempo Magazine Interview NO. 34/XXIX 23 October 2000 “Barnabas Suebu: 'They Only Want Independence'


 

 


 
Richard Samuelson
Free West Papua Campaign, Oxford, UK.
www.freewestpapua.org

© Copyright 2008 by PAPUAPost.com