Kemarin di Jayapura, Papua Barat,
dua wanita masing-masing Yohana Pekei dan Nelly Pigome diinterogasi oleh polisi
Indonesia karena mereka membuat
noken/yum (Tas Papua) dan menjualnya hanya untuk mendapatkan beberapa
peni (rupiah) untuk menunjang kehidupan keluarga mereka.
Apa yang begitu berbahaya dari
sebuah tas yang dijual di pinggiran jalan oleh kedua wanita Papua Barat
tersebut?
Jika saya memberitahu anda bahwa
noken/yum (Tas Papua) tersebut memiliki lambang bintang sebagai bagian dari
desain tas tersebut, mungkin sekarang anda dapat mengerti mengapa negara
Indonesia begitu sangat ketakutan terhadap noken/yum (Tas Papua) yang khusus
ini? BINGUNG? Baik. Perkenankanlah saya memberitahu anda bahwa Bintang
Kejora adalah simbol dari 45 tahun mimpi
rakyat Papua Barat akan kemerdekaan mereka dari penjajahan
Jadi NKRI, Negara Kesatuan
Republik
Awal minggu ini, Barnabas Suebu,
Gubernur Kolonial Indonesia di Papua Barat memerintahkan polisi untuk
melaksanakan peraturan
perundang-undangan yang baru, pasal 6 peraturan pemerintah no 77 tahun 20007
yang menyatakan bahwa merupakan sebuah tindakan kriminal memamerkan, memajang,
menjual atau menggunakan bendera atau logo yang digunakan oleh gerakan –gerakan
separatis.1 Noken/Yum (Tas Papua) milik Yohana dan
Nelly sekarang adalah sebuah Noken/Yum (Tas Papu) illegal.
Pada tahun 2004, dua aktivis
kemerdekaan Papua Barat, Filep Karma dan Yusak Pakage dipenjarakan masing-masing
10 dan 15 tahun berturut-turut karena mengibarkan bendera Bintang Kejora secara
damai. Sekarang giliran Yohana dan Nelly dicap oleh
Pada bulan November yang lalu,
Majalah TIME menganugerahi Suebu sebagai seorang Pahlawan Lingkungan Hidup
karena janji-janjinya untuk memulai melindungi hutan-hutan tropis Papua Barat
yang terancam. Minggu ini Suebu telah menunjukkan WARNA ASLINYA sebagai PAHLAWAN
NASIONALISME
Dan Indonesia tidak hanya
ketakutan karena noken/yum (Tas-tas Papua).
Buku itu menyesatkan, ia akan
menciptakan perlawanan dan memecahkan masyarakat Papua kata Rudi Hartono kepala
Badan Intelijen Indonesia (BIN) di Papua Barat. Kami akan terus mencari buku
tersebut di toko-toko buku dan di berbagai tempat. 2
Dan inilah mengapa noken/Yum dari
Yonana dan Nelly serta buku Sendius Wonda begitu menakutkan bagi Pemerintah
Anda dapat mengatakan bahwa saya
dapat berkata demikian karena saya adalah aktivis dari Free West Papua Campain
bukan? Baik.
Jangan hanya dengar dari saya saja. Pada bulan Juni 2006 wartawan BBC
koresponden Jakarta, Rachel Harvey, diberikan sebuah ijin yang langka oleh
Pemerintah Indonesia untuk mengunjungi Papua Barat. Inilah yang dia katakan pada
waktu kembali dari Papua:
SAYA TIDAK
BERBICARA POLITIK DENGAN SETIAP ORAN PAPUA YANG SAYA TEMUI. TETAPI KAPAN SAJA
TOPIK ITU SELALU MUNCUL, DAN TOPIK ITU
BERULANG-ULANG KEMBALI, SETIAP ORANG YANG SAYA TEMUI MEMBERITAHU SAYA BAHWA
MEREKA MENGINGINKAN KEMERDEKAAN. 3
Dan pada
bulan Februari tahun 2007, seorang akademisi senior bidang Ilmu Politik dari
LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang berada langsung dibawah kendali
Presiden Republik Indonesia) , Muridan S Widjoyo yang tidak seperti para
akademisi asing, selalu mendapatkan keleluasaan oleh militer Indonesia untuk
mengunjungi Papua, memberikan pengakuan
yang sungguh luar biasa bahwa:
AKAN TETAPI
KITA HARUS SADAR BAHWA DIDALAM HATI YANG PALING DALAM, SETIAP ORANG PAPUA
MENGINGINKAN KEMERDEKAAN DARI INDONESIA. 4
Dan untuk
menyungguhkan semua pernyataan-pernyataan itu, bagaimana anda bisa ragu
kalauGubernur Indonesia yang baru saja disebutkan tadi, Barnabas Suebu sendiri,
berbicara pada tahun 2000, sebelum periode kekuasaannya Sekarang. Disini Suebu,
orang yang sama yang pada minggu ini mendeklarasikan Noken/Yum (Tas Papua) dari
Yohana dan Nelly illegal, diwawancarai Majalah TEMPO pada masa musim semi,
periode dimana dimulainya masa keterbukaan ketika runtuhnya kediktatoran
Suharto, sebuah era kebebasan yang secara kejam ditutup dengan pembunuhan Theys
Eluay, pemimpin kemerdekaan bangsa Papua Barat oleh KOPASSUS pada bulan Nopember
2001.
TEMPO:
Dalam pandangan anda, akankah rakyat Irian Jaya memilih Kemerdekaan atau
Otonomi bila sebuah referendum dilaksanakan?
SUEBU:
BERDASARKAN PENGAMATAN SAYA SENDIRI DI JAYAPURA, SAYA MERAMALKAN BAHWA KEINGINAN
TERBESAR ADALAH KEMERDEKAAN. JADI INI SEBUAH MASALAH SERIUS. SAYA
BERHARAP JANGAN ADA LAGI YANG MENGATAKAN BAHWA INI KEINGINAN DARI SEGELINTIR
ORANG. MEREKA TIDAK MENERIMA OTONOMI….. MEREKA HANYA MAU KEMERDEKAAN……. RAKYAT
PAPUA MENUNTUT KEMERDEKAAN TETAPI JAKARTA MENOLAKNYA…. RAKYAT PAPUA TELAH LAMA
MERINDUKAN KEMERDEKAAN. 5
Sebuah noken/yum dan sebuah buku tentang Papua. Indonesia
memang benar-benar ketakutan ……akan KEBENARAN.
CATATAN:
2. The Jakarta Post 15 December 2007 “[Indonesian] Government Bans, Confiscates Book on Papuan Political Struggle”
3. Te Waha Nui Online 14 June 2006 “West Papuan clergyman to speak on human rights at seminar” http://www.tewahanui.info/news/140606_westpapua.shtml
4. Jakarta Post 1 February 2007 'Papuan Separatists not a threat'http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20070201.H05
5. Tempo Magazine Interview NO. 34/XXIX 23 October 2000 “Barnabas Suebu: 'They Only Want Independence'