Setiap tahun, persisnya tepat 24 Desember dirayakan upacara Malam Kudus oleh Umat Kristiani di seluruh muka bumi. Banyak peristiwa mewarnai perayaan ini. Di negara barat diwarnai oleh konsumerisme, bahkan saya boleh katakan ketamakan materialisme yang nampak jelas di sana. Di Indonesia diwarnai ketakutan, panik dicampur bangga sebagai dan karena orang Kristen. Sementara di Asia lainnya lebih diwarnai liburan- liburan ke tempat-tempat keramaian. Lalu di Papua Barat Natal diwarnai oleh tukar-menukar kado dan makan besar-besaran dengan pesta adat atau pukul tambur siang-malam.
Liberalisme dunia barat yang materialis mengajarkan kekayaan sebagai lambang dari pemberkatan Tuhan, sehingga berkat yang didapat dari Tuhan itu ditunjukkan dengan hiasan-hiasan pohon natal, hiasan-hiasan Monster "Father Christmas" dan kirim-mengirim Kartu Natal begitu ramai, bahkan sudah dimulai sejak 1 Desember, bahkan sebelum itu. Memang sudah kita tahu ada ajaran Kalvinisme yang mendasari Liberalisme barat atau modernisme, bahwa orang yang kaya itu berhubungan erat dengan ke- Kristen-an. Paulus sendiri menyuruh orang yang malas bekerja tidak usah diberi makan. Akibatnya, orang yang miskin dianggap karena akibat ketidak- tobatan mereka kepada Tuhan, dan juga karena kemalasan mereka.
Kita pindah ke Asia. Asia memang orang sosialis, bukan dalam perspektiv ideologi politik modern, tetapi dalam kehidupan sosio-budaya sejak dulukala. Pada hari Natal ini, banyak orang Asia memanfaatkannya untuk berkumpul bersama keluarga, berlibur bersama keluarga, bahkan ada yang pindah rumah sekalian, untuk tinggal berminggu-minggu bersama keluarga, sampai menjelang tahun baru. Kepentingan orang tua dan keluarga menjadi prioritas.
Bagaimana dengan Indonesia? Ini negara Muslim berpenduduk terbesar di dunia, jumlah orang Kristen tidak begitu perlu dibanggakan. Walau begitu sudah nampak banyak sekali orang Kristen menujnukkan sikap bangga, terutama di layar kaca dan dengan menghadiri berbagai ibadah natal. Tetapi di balik kebanggaan itu sebenarnya ada rasa takut, takut bukan karena dosa, tetapi karena ada ancaman bom di sana-sini. Ketakutan itu bukan tidak beralasan. Banyak telepon gelap mengancam bom. Pengalaman tahun- tahun silam juga sangat berpengaruh terhadap was-was itu. Para ketua organisasi agama mulai bermunculan menyampaikan pesan natal dan para petinggi negara juga muncul dengan salam natal mereka. Ada pawai perayaan natal di sana-sini.
Lebih parah lagi kalau kita pulang ke Papua Barat, eh di Tanah Papua, timur dan barat Pulau New Guinea. Orang-orang di tanah ini katanya ada di Pulau Surga, Taman Eden, demikian kata Wakil Direktur Survival International, sebuah lembaga lingkungan hidup berbasis di Washington yang barusan katanya menemukan spesies baru Tikus Raksasa di Pegunungan Foja, Mamberamo. Memang benar, buktinya burung surga, "the paradise bird" hanya ada di pulau ini. Kalau burung surga ada di situ, maka tempat tinggal dari burung itu memang surga.
Mungkin karena itulah, maka tidak perlu heran melihat orang Papua berdansa, menari, menyanyi dan bermuka ceria di hari Natal ini. Mereka merayakannya dengan mengorbankan banyak hewan piaraannya, banyak uang dihabiskan untuk membeli kue, sirup dan bisccuits, katanya banyak tamu akan datang memberi salam. Di tambah lagi, pakaian baru juga dibeli, ditambah lagi, cat-cat rumah diperbarui juga. Ditambah lagi, hiasan di dalam rumah juga berkilap-kilap, ditambah pohon terang-benderang yang disebut "pohon terang" alias pohon natal itu menghiasi rumah orang Surga itu.
Padahal mereka barangkali sedikit tertidur, tertidur karena hiburan "Kabar Baik" dan "Kabar Keselamatan" yang datang dari atas. Mereka lupa bahwa tanah mereka bukan tanah Surga seperti namanya lagi. Tanah mereka itu tanah neraka. Orang Papua yang pernah keluar dari tanah itu akan mengaku dengan pasti, "Tinggal di sini boleh aman ini, kalau di Papua saya hidup gelisah, dan serba rasa takut tentara/ polisi Indonesia." Tanah itu dikelilingi oleh moncong-moncong senjata 24 jam, orang-orangnya sebentar lagi akan punah (lihat artikel terjemahan SPMNews hari ini tentang kepunahan orang Papua pada 2030).
Lalu apa yang dirayakan? Keselamatan apa?
Oh katannya, itu bukan keselamatan tubuh, tetapi keselamatan jiwa. Bukan keselamatan dari Indonesia tetapi keselamatan dari belenggu setan.
Kalau begitu baik.
Tetapi orang Kristen Papua barangkali perlu bertanya, melihat kondisi alam, sosial, budaya dan situasi politik serta nasibnya dan nasib bangsanya sendiri saat merayakan orang dari luar planet Bumi yang pernah datang untuk menyelamatkan dirinya itu. Ia perlu bertanya kepada Yesus sendiri, "Apa arti Natal itu sendiri?"
Saat saya tanyakan dia, ia katakan, "Ada tiga kata kunci di sini: MENINGGALKAN", "MENANGGALKAN" dan "DATANG."
Menjadi orang Kristen atau sebagai orang Kristen memperingati sebuah kedatangan setelah menanggalkan dan meninggalkan, dalam perspektiv penderitaan bangsa Papua, kalau kita paralelkan dengan kedatangan Yesus karena penderiaan umat manusia, maka barangkali perlu kita mencatat tiga katakunci tadi. Yang pertama, ia menanggalkan ke-Tuhan-anNya. Ia menanggalkan pangkat-Nya, kemulian-Nya, tahta-Nya, surga-Nya, segalanya. Seringkali disebut "Ia menyangkal dirinya sendiri."
Maka barangkali semua orang Papua, dengan melihat kondisi bangsanya yang semakin terancam punah pada 2030 ini, atau lebih cepat dari itu, ia haruslah menanggalkan seluruh identitas yang ia peroleh secara pribadi, secara sosial ataupun politik. Entah itu ia sebagai seorang ayah atau ibu, pemuda atau anak dan orang tua, Drs, S.Th., Dip.Th., MA, M.Si, Dr (Hon), Kapten, Kopral, Mayor, Marsekal, Kepala Suku, Ondoafi, Tokoh Adat, Orang Berilmu, Paranormal, Pendeta, Penginjil, Ketua DPR, Ketua Sinode, Bupati, Camat, Pejuang Pepera, Pejuang Merah-Putih, Nasionalis Papua, Nasionalis Papindo, "O", "M", "F", siapapun juga, semuanya, seanteronya.
Barangkali bijak, melihat kondisi dan situasi wilayah dan bangsa yang disebut Bumi Firdaus (Cenderawasih) ini untuk meninggalkan segala paham dan afiliasi politik serta partai politik kita, ideologi dan denominasi serta doktrin kita, apapun yang kita miliki selama nafas ada di dalam hidup kita. Barangkali kita perlu tanggalkan semuanya. Kita perlu mengaku: KITA SEMUA ORANG PAPUA. Kita lahir sebagai orang Papua, di tanah Papua, dan mati sebagai orang Papua, di kubur kembali ke dalam Tanah Papua, siapapun kita. Itu kebenaran mutlak, tak dapat disangkal dan tak perlu dibenarkan juga.
Kalau kita telah menanggalkan apa saja yang kita raih selama kita hidup ini, maka selanjutnya kita perlu meninggalkan tempat di mana ia ada sekarang. Kita ada di posisi apapun juga, sebagai pejabat NKRI, sebagai rakyat jelata, sebagai pelayan Gereja, sebagai orang Kristen ataupun sebagai Orang Islam dan orang tidak beragama sekalipun. Di manapun kita berada, kita semua sebagai orang Papua.
Dalam merayakan "natal" hari kedatangan karena Yesus meninggalkan tempatnya di surga ini, kita perlu tinggalkan tempat tinggal kita sekarang: tempat malas tahu, tempat pesta-pora, tempat mencari untuk kepentingan pribadi dan keluarga sendiri, tempat sekongkol dengan penjajah, tempat ketakutan menyatakan kebenaran, tempat kebisuan karena rasa tidak mampu dan tidak sanggup lagi membela kebenaran, tempat mengalah, tempat berdansa-dansi di atas darah saudara-saudara sebangsa dan setanah-airnya sendiri. Penting untuk kita tinggalkan tempat kerja kita, tempat tinggal kita, tempat apapun dan di manapun kita berada.
Setelah Yesus meninggalkan tempat Surga, yang ketiga, ia punya tujuan kedatangan, yaitu ke Bumi, ke antara umat manusia, di antara saya dan Anda. Ia telah datang ke tempat hina, penuh dengan dosa, kegelapan, tempat di mana ada jeritan dan tangisan serta kematian. Tempat di mana sorang Yesus tidak pantas untuk menjamunya. Tetapi ia datang bukan sekedar bertamu. Ia datang menjadi sama dengan manusia, memang ia manusia. Ia mengalami semua yang dialami manusia, melakukan semua yang dilakukan manusia. Memang dia seorang manusia.
Kita sebagai seorang Pendeta, Ketua ini dan itu, tentara dan polisi, pegawai negeri dan swasta, bergelar dan berpangkat, yang terhormat dan tak terpandang, pendukung NKRI ataupu penentangnya, kita perlu datang dari tempat di mana kita ada, kepada sebuah kebenaran mutlak: Bangsa Papua sedang dimusnahkan dari muka bumi. Entah itu lewat Otsus, entah itu lewat pembangunan, bia di melalui pelayanan kesehatan dan pendidikan, entah dengan Anda menjadi Bupati, Gubernur, Ketua DPR atau Ketua apa saja, entah apapun juga, bangsa Papua jelas dan pasti menuju kepunahan dari Bumi dan tanah airnya sendiri. Itu sebuah kebenaran mutlak. Sama dengan kebenaran mutlak manusia berdosa, berada di alam kegelapan dan penderitaan, keadaan tanah Papua dan bangsa Papua menuju kepunahan adalah sebuah kebenaran mutlak.
Oleh karena itulah, maka dalam merayakan 'kedatangan' Yesus ini, kita perlu datang ke tempat penderitaan bangsa Papua. Bangsa Papua menderita karena dijajah NKRI. Ia dijajah karena kekayaan alamnya yang melimpah-ruah tetapi dirampok dan dijarah habis-habisan. Ditambah lagi orang Papua sendiri tidak mau menanggalkan apa yang dimilikinya dan meninggalkan tempat enaknya sekarang untuk datang, menanggung beban berat dan amanat enderitaan hatinurani bangsa di Tanah Firdaus ini. Ditambah lagi, orang Papua sendiri malas tahu, takut, malu, terbelenggu oleh ketamakannya karena ia tak mau menanggalkan apa yang ia miliki sekarang, dan datang ke tempat penderitaan bangsa ini.
Editorial: Natal Memperinganti "Kedatangan" Yesus ke Bumi
Kategori:
Editorial & Opini,
Serbaneka,
Kolum
Oleh Sem Karoba
Dec 27, 2007 - 8:23:15 AM
Halaman ke: 1 2 3
Oleh Sem Karoba
Dec 27, 2007 - 8:23:15 AM
Halaman ke: 1 2 3
"Meninggalkan Surga Tempatnya" dan "Menanggalkan Tuhan Pangkatnya"