Tetapi persoalan di sini bukan masalah kita orang Koteka
atau pribadi saya dengan pribadi lepas pribadi kaum Papindo. Ini masalah
organisasi, dan sekaligus masalah ideolgi politik. Dan ideology politik itu
bukan sekedar konservativ-liberal, atau moderat-ekstrimis seperti yang ada di
dalam sebuah Negara. Ini ideology terhadap keberadaan sebuah Negara dan
ideology sebagai tanggapan terhadap keberadaan itu.
Ini juga pelajaan bermanfaat bagi kaum Papindo di dalam
Masyarakat Adat lain di seluruh tanah air yang selama ini menggunakan aspirasi
dari posisi ideology yang satu untuk meraih posisi di pemerintahan ideology
lawannya. Ini politik yang tidak mendidik rakyat. Ini politik yang membodohi,
memanipulasi, menyulap realitas sebenarnya.
SPMNews:
Demmak: Nama tidak bisa dicari. Dia melekat ada kita sejak
lahir. Maksudnya popularitas? Tapi popularitas bagi saya untuk apa? Untuk
menjadi pejabat NKRI? Popularitas hanya untuk menjadi hamba orang lain di tanah
air sendiri bukan merupakan sebuah cita-cita bijak. Dengan
Sebagai tambahan. Dalam adat Koteka, popularitas tidak biasa
dicari. Ia ada sendiri. Tindakan mencari popularitas itu budaya orang asing,
yang tidak mungkin melekat pada saya. Yang penting adalah “Kita berdiri dan
memberikan ruang yang cukup kepada Kebenaran. Kebenaran itu mutlak, jadi kita
tak perlu memanipulasinya, mengatasnamakan atau apa saja. Kalau pembentukan
Provinsi Papua Tengah itu merupakan kebenaran karena diinginkan oleh Masyarakat
Koteka, ya saya satu orang mau bicara apa? Tetapi kalau sebaliknya, fakta itu
dimanipulasi orang-orang tertentu, maka itu harus dilawan, karena ia
bertentangan dengan kepentingan dan nasib bersama. Apalagi kalau fakta itu
dimanipulasi pihak penjajah, maka memang kita berkewajiban meluruskanna, baik
orang Koteka di kubu Papindo maupun orang Koteka di kubu Kebenaran. Dua-duanya
harus turun tangan membenarkan isu yang tidak benar.
Nama yang melekat pada kita masing-masing adalah nama yang
akan kita tinggalkan untuk generasi berikut. Apakah nama itu ditulis dengan
warna merah putih, warna biru putih, atau warna apa? Nanti anak-cuku akan
membacanya saat nama kita terpampang di kuburnan.
Menurut Ada Koteka, menyangkut ‘cari nama’, yang harus kita perhitungkan adalah bagaimana caranya meninggalkan ‘nama itu’ bagi generasi berikut Jangan sampai kita meninggal, kita langsung membawa serta nama kita. Karena itu, nama yang kita mau tinggalkan itu buat apa dicari? Nama itu juga tidak pernah kita ciptakan, itu pemberian orang tua. Jadi, kita tidak perlu cari.
Demmak: