Surat ini tidak untuk menunjukkan ketidak-kompakkan, tetapi justru sebaliknya

Kategori: Interviews, Masyarakat Adat, Otonomi Khusus
Oleh Koteka Webmaster
Feb 26, 2008 - 7:25:01 AM
Halaman ke: 1 2 3

Wawancara Ekslusiv: Jubir Demmak untuk Masyarakat Internasional tentang Surat Terbuka menyangkut Pembentukan Provinsi Papua Tengah

Tetapi persoalan di sini bukan masalah kita orang Koteka atau pribadi saya dengan pribadi lepas pribadi kaum Papindo. Ini masalah organisasi, dan sekaligus masalah ideolgi politik. Dan ideology politik itu bukan sekedar konservativ-liberal, atau moderat-ekstrimis seperti yang ada di dalam sebuah Negara. Ini ideology terhadap keberadaan sebuah Negara dan ideology sebagai tanggapan terhadap keberadaan itu. Ada yang menerima keberadaan itu, ada yang menolak. Maka kalau ideology yang menerima keberdaan itu dan yang menolak tidak dapat saling mendukung dalam konteks politik dari kaum penjajah di tanah air.

Ini juga pelajaan bermanfaat bagi kaum Papindo di dalam Masyarakat Adat lain di seluruh tanah air yang selama ini menggunakan aspirasi dari posisi ideology yang satu untuk meraih posisi di pemerintahan ideology lawannya. Ini politik yang tidak mendidik rakyat. Ini politik yang membodohi, memanipulasi, menyulap realitas sebenarnya.

SPMNews: Ada juga menuduh Anda hanya ‘cari nama’ dengan ini? Kami kira bisa dipahami. Apa pendapat Anda?

Demmak: Nama tidak bisa dicari. Dia melekat ada kita sejak lahir. Maksudnya popularitas? Tapi popularitas bagi saya untuk apa? Untuk menjadi pejabat NKRI? Popularitas hanya untuk menjadi hamba orang lain di tanah air sendiri bukan merupakan sebuah cita-cita bijak. Dengan surat ini saya dapat popularitas untuk mendapatkan apa dan menjadi apa? Tidaklah mungkin. Yang paling mungkin saya dapatkan adalah kejaran inteligen dan pembuntutan, terror dan intimidasi. Bagaimana orang sedang menantang sebuah tirani demokrasi yang penuh dengan kekerasan dan pembunuhan lalu kita mencari sesuatu yang baik daripadanya?

Sebagai tambahan. Dalam adat Koteka, popularitas tidak biasa dicari. Ia ada sendiri. Tindakan mencari popularitas itu budaya orang asing, yang tidak mungkin melekat pada saya. Yang penting adalah “Kita berdiri dan memberikan ruang yang cukup kepada Kebenaran. Kebenaran itu mutlak, jadi kita tak perlu memanipulasinya, mengatasnamakan atau apa saja. Kalau pembentukan Provinsi Papua Tengah itu merupakan kebenaran karena diinginkan oleh Masyarakat Koteka, ya saya satu orang mau bicara apa? Tetapi kalau sebaliknya, fakta itu dimanipulasi orang-orang tertentu, maka itu harus dilawan, karena ia bertentangan dengan kepentingan dan nasib bersama. Apalagi kalau fakta itu dimanipulasi pihak penjajah, maka memang kita berkewajiban meluruskanna, baik orang Koteka di kubu Papindo maupun orang Koteka di kubu Kebenaran. Dua-duanya harus turun tangan membenarkan isu yang tidak benar.

Nama yang melekat pada kita masing-masing adalah nama yang akan kita tinggalkan untuk generasi berikut. Apakah nama itu ditulis dengan warna merah putih, warna biru putih, atau warna apa? Nanti anak-cuku akan membacanya saat nama kita terpampang di kuburnan.

Menurut Ada Koteka, menyangkut ‘cari nama’, yang harus kita perhitungkan adalah bagaimana caranya meninggalkan ‘nama itu’ bagi generasi berikut Jangan sampai kita meninggal, kita langsung membawa serta nama kita. Karena itu, nama yang kita mau tinggalkan itu buat apa dicari? Nama itu juga tidak pernah kita ciptakan, itu pemberian orang tua. Jadi, kita tidak perlu cari.

SPMNews: Selama ini orang Koteka selalu dilihat kompak, di luar dan di dalam. Tetapi dengan surat ini terlihat bias dimanfaatkan pihak penjajah. Demikian penilaian pihak lain.

Demmak: Surat ini tidak untuk menunjukkan ketidak-kompakkan, tetapi justru sebaliknya. Nanti akan Anda tahu apa masksud saya, tapi tidak perlu saya beritahu. Hasilnya akan Anda lihat nanti, bukan hari ini tetapi puluhan tahun kemudian. Kekompakan itu bukan karena dibangun lewat lobi-lobi politik atau indoktrinasi, kekompakan itu ada sebagai nafas dan darah-daging, tidak bisa dikacaukan oleh surat ini, karena surat ini punya maksud dan tujuan, itu bersifat kepentingan umum tanah Papua. Dan secara adat, surat ini memiliki target bidik, ia akan mencapai target bidikannya.

 SPMNews: Apa pesan Anda untuk bangsa Papua atas surat ini?

Sphere: Related Content

Baca Lanjut atau Balik ke Halaman: 1 2 3


Artikel Dugg