SPMNews: Apakah Surat Terbuka yang Anda sampaikan itu benar-benar merupakan isihati dari tokoh Adat Koteka?
Jubir Demmak untuk Masyarkakat Internasional (Demmak): Itu
pertanyaan yang harus diajukan kepada para tokoh Adat Koteka. Dalam
SPMNews: Apa yang Anda sudah tahu tentang isu dimaksud?
Demmak:
Teman-teman di dalam negeri, kalau berpolitik untuk NKRI
haruslah bermain di dalam ruang dan kotak NKRI sendiri, mempergunakan partai
politik, organisasi
Isu seperti ini bukan baru. Banyak calon Bupati, Calon
Gubernur, Camat dan sebagainya mengatasnamakan “orang tua” di mana saja mereka
suka sebut. Mereka selalu bilang “Orang tua su mendukung penuh!” Ah, orang tua
itu urusannya ada di hutan untuk mendukung pemekaran? Mereka ada di situ
gara-gara tidak jadi Bupati atau Gubernur? Alm. Gubernur Solossa sendiri
menandatangani Papua Merdeka waktu Tim-100 menghadap
Intinya politisasi aspirasi bangsa Papua ini sudah
berlangsung sejak 1960-an, sampai hari ini. Nah, wilayah Masyarakat Adat Koteka
merupakan tanggungjawab saya sebagai petugas atau pesuruh dari para tokoh Adat
Koteka untuk membela dan membenarkan kalau ada isu atau tindakan yang salah.
Saya hanya pesuruh, bukan yang menyuruh. Tetapi tidak berarti saya lakukan itu
sambil-lalu. Saya harus melakukannya demi orang Koteka, hari ini dan leih utama
dan terpenting untuk kepentingan anak-cucuk yang kami lahirkan dan yang akan
tinggal setelah kami mati.
Kita tidak berbicara tentang kepentingan sesaat saya jadi
Gubernur atau nama saya menjadi terkenal. Apalagi gubernur dari sebuah
pemerintahan koloni. Ini isunya bercampuraduk. Kita harus ingat apa dampak
keputusan dan langkah saya hari ini untuk anak-cucu saya, di atas tanah saya,
terhadap adat saya?
SPMNews: Setahu kami itu hanya isu saja, tidak ada bukti
tertulis. Anda dapat membuktikannya?
Demmak: Bukti tertulis saya tidak punya. Makanya dalam
Sekaligus juga, isu itu bukan sebatas isu kalau ia
mempengaruhi keputusan Masyaraakat Koteka dalam mengambil keputusan. Bagaimana
kalau isu itu dianggap betul dan akhirnya tokoh Adat Koteka mengambil sikap?
Tokoh Adat Koteka tidak akan pernah meminta Surat Dukungan secara
tertulis. Jelas, yang disalahkan para
pesuruh, termasuk saya.
SPMNews: Kami juga mencurigai isu itu sengaja dilemparkan
NKRI, tetapi kenapa harus Anda tanggapi?
Demmak: Justru kalau itu dilemparkan NKRI, maka saya harus
tanggapi. Nanti teman-teman yang berpolitik di dalam NKRI atau saya sebut Kaum
Papindo akan tahu siapa dalang persoalan itu dan siapa melahirkan isu dimaksud.
Intinya adalah kami harus menampis isu itu agar tidak membingungkan masyarakat.
Sampai di situ saja. Tidak ada maksud lebih.
Dengan demikin isu dimaksud tergulung ke dalam, dan isu itu
menjadi masalah NKRI dan para politikus Papindo, tidak ada kaitan dengan Kantor
di Port Vila atapun yang mereka sebut “orang tua” di hutan.
SPMNews:
Demmak: Tidak ada jalur atau mekanisme tanya-jawab.
Tanya-jawab dalam rangka apa? Alsan kami sama-sama sebagai orang Koteka, atau
karena kami sama-sama sebagai WNI? Ini bukan masalah pribadi, jadi harus
bertanya-jawab secara pribadi. Kepada pribadi siapa? Saya juga tidak tahu? Karena
itu saya tidak menyoroti pribadi siapapun, karena secara adat orang-orang
Pegunungan Tengah Papua adalah semuanya orang-orang Koteka. Tidak ada yang
bermain di luar koridor hukum adat Koteka. Tetapi kalau kita tanpa sadar keluar
rel, maka memang tanggungjawab kita bersama untuk menarik kembali dan
kembalikan kepada relnya.
Tetapi persoalan di sini bukan masalah kita orang Koteka
atau pribadi saya dengan pribadi lepas pribadi kaum Papindo. Ini masalah
organisasi, dan sekaligus masalah ideolgi politik. Dan ideology politik itu
bukan sekedar konservativ-liberal, atau moderat-ekstrimis seperti yang ada di
dalam sebuah Negara. Ini ideology terhadap keberadaan sebuah Negara dan
ideology sebagai tanggapan terhadap keberadaan itu.
Ini juga pelajaan bermanfaat bagi kaum Papindo di dalam
Masyarakat Adat lain di seluruh tanah air yang selama ini menggunakan aspirasi
dari posisi ideology yang satu untuk meraih posisi di pemerintahan ideology
lawannya. Ini politik yang tidak mendidik rakyat. Ini politik yang membodohi,
memanipulasi, menyulap realitas sebenarnya.
SPMNews:
Demmak: Nama tidak bisa dicari. Dia melekat ada kita sejak
lahir. Maksudnya popularitas? Tapi popularitas bagi saya untuk apa? Untuk
menjadi pejabat NKRI? Popularitas hanya untuk menjadi hamba orang lain di tanah
air sendiri bukan merupakan sebuah cita-cita bijak. Dengan
Sebagai tambahan. Dalam adat Koteka, popularitas tidak biasa
dicari. Ia ada sendiri. Tindakan mencari popularitas itu budaya orang asing,
yang tidak mungkin melekat pada saya. Yang penting adalah “Kita berdiri dan
memberikan ruang yang cukup kepada Kebenaran. Kebenaran itu mutlak, jadi kita
tak perlu memanipulasinya, mengatasnamakan atau apa saja. Kalau pembentukan
Provinsi Papua Tengah itu merupakan kebenaran karena diinginkan oleh Masyarakat
Koteka, ya saya satu orang mau bicara apa? Tetapi kalau sebaliknya, fakta itu
dimanipulasi orang-orang tertentu, maka itu harus dilawan, karena ia
bertentangan dengan kepentingan dan nasib bersama. Apalagi kalau fakta itu
dimanipulasi pihak penjajah, maka memang kita berkewajiban meluruskanna, baik
orang Koteka di kubu Papindo maupun orang Koteka di kubu Kebenaran. Dua-duanya
harus turun tangan membenarkan isu yang tidak benar.
Nama yang melekat pada kita masing-masing adalah nama yang
akan kita tinggalkan untuk generasi berikut. Apakah nama itu ditulis dengan
warna merah putih, warna biru putih, atau warna apa? Nanti anak-cuku akan
membacanya saat nama kita terpampang di kuburnan.
Menurut Ada Koteka, menyangkut ‘cari nama’, yang harus kita perhitungkan adalah bagaimana caranya meninggalkan ‘nama itu’ bagi generasi berikut Jangan sampai kita meninggal, kita langsung membawa serta nama kita. Karena itu, nama yang kita mau tinggalkan itu buat apa dicari? Nama itu juga tidak pernah kita ciptakan, itu pemberian orang tua. Jadi, kita tidak perlu cari.
Demmak:
Demmak: Sudah banyak pesan-pesan saya tadi. Jadi tidak perlu
ditambah lagi. Terimakasih.
Wawancara Email per 25 Februari 2008