Artikel dari  icon

Aktivitas Gunung Kelud Menurun - Logistik Terlambat, Warga Tinggalkan Pengungsian

Diposkan di: Kebijakan Lain
Oleh SP/Ignatius Liliek
Oct 19, 2007 - 12:11:38 AM
Cetak Halaman ini

Seorang warga memanggul keranjang berisi rumput untuk pakan ternak di kawasan lereng Gunung Kelud, Dusun Purwodadi, Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Kamis (18/10). Meskipun Gunung Kelud berstatus "awas" dan diperkirakan segera meletus, banyak warga di lereng puncak Kelud yang menolak imbauan pemerintah agar mengungsi meninggalkan kampung mereka. Sebagian warga masih beraktivitas dengan mancari rumput dan berladang.

[KEDIRI] Aktivitas magmatik Gunung Kelud pada Kamis (18/10) menurun dibanding Selasa (16/10) dan Rabu (17/10). Tanda-tanda penurunan, di antaranya, hingga pukul 11.00, jumlah gempa letusan dangkal tercatat hanya 152 kali, sedangkan sebelumnya mencapai 306 kali.

Namun demikian, Pimpinan Tim Tanggap Darurat Aktivitas Kelud Kristanto mengimbau semua pihak, terutama Satlak Penanggulangan Bencana di Kabupaten Kediri, Malang, dan Blitar, yang wilayahnya termasuk rawan dampak letusan, untuk mengingatkan warganya tetap menjauhi kawasan rawan bencana dalam radius 5-10 kilometer dari puncak Gunung Kelud.

Sementara itu, sebagian dari para pengungsi kembali ke rumah masing-masing dengan alasan kekhawatiran Gunung Kelud segera meletus, tak terbukti, meskipun status awas belum diturunkan menjadi siaga.

Namun sejumlah warga mengakui, cuaca mendung yang meliputi radius 10 kilometer dari puncak terasa pengap dan panas. Pada petang dan malam hari terlihat jelas kukusan yang memancar dari kawah Gunung Kelud membubung ke atas berwarna putih kebiru-biruan.

"Mungkin itu gas yang disemburkan dari proses magmatik," kata Arifin, anggota Satlak Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, yang berlokasi di sisi utara puncak Gunung Kelud.


Logistik Belum Tiba

Seiring dengan menurunnya aktivitas magmatik Gunung Kelud, ribuan warga dari Dusun Mulyorejo, Sugihwaras, dan Rejomulyo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri meninggalkan tempat pengungsian di Desa Tawang, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Rabu (17/10). Selain tidak betah di tempat pengungsian yang berjubel, mereka mengaku belum mendapat bantuan makanan sejak mengungsi pada Selasa (16/10) malam.

Dengan mengajukan berbagai alasan, mereka pun satu per satu pulang dengan kendaraan umum. Petugas Satlak Penanggulangan Bencana dan Pencegahan (PBP) Kecamatan Wates tak kuasa mencegah kepulangan para pengungsi, karena pasokan logistik dari Satlak Pemkab Kediri memang belum tiba di lokasi pengungsian. Pengungsi yang pulang umumnya beralasan hanya menengok rumah, mengambil pakaian dan barang yang tertinggal, serta berjanji akan kembali ke tempat pengungsian sebelum malam tiba.

"Saya dan keluarga ikut evakuasi ke tempat pengungsian di Desa Tawang sejak Selasa malam dan sampai sekarang belum sempat makan. Padahal di rumah ada banyak makanan dan belum sempat disentuh karena buru-buru mengungsi," ujar Paiman (45) saat ditemui di rumahnya di Dusun Rejomulyo, Desa Sugihwaras, Rabu petang.

Meski demikian, dia memilih untuk kembali ke tempat pengungsian di Balai Desa Tawang, karena status Gunung Kelud belum diturunkan ke level siaga.

Sementara itu, Warnoto (51) dan Supani (48) yang tinggal bertetangga di Dusun Mulyorejo, Desa Sugihwaras, kawasan yang paling dekat dengan puncak Kelud. Mereka mengaku memilih kembali pulang untuk menengok kondisi rumahnya, sekaligus memberi makan ternak peliharaan yang ditinggalkan. "Saya harus mencari rumput dan memberi makan empat ekor ternak kambing itu," ujar Supani.

Warnoto dan Supani juga mengaku selama di tempat pengungsian di Balai Desa Tawang, Kecamatan Wates, tidak mendapat makanan dan minuman sebagaimana dijanjikan sebelumnya.

Menghadapi kondisi tersebut, Sutris, petugas Satlak PBP Kecamatan Wates mengaku, ia dan petugas lainnya tidak dapat mencegah kepulangan pengungsi. "Selasa malam ada 246 pengungsi di sini, tetapi sekarang tinggal 17 orang," ujarnya saat ditemui Kamis pagi.

Dia menuding lambatnya pasokan logistik dari Satlak PBP Pemkab Kediri menjadi penyebab kepulangan warga.

Kondisi berbeda dialami 741 pengungsi asal Desa Sempu, Desa Babadan, dan Desa Petungombo, Kecamatan Ngancar, Kediri, yang mengungsi di Balai Desa Segaran dan gedung SDN Segaran-I, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Sebagian di antara pulang bukan karena tidak mendapat jatah makan dan minum, tetapi karena memang ingin melihat rumah beserta harta benda milik mereka.

Nasib pengungsi di Desa Segaran jauh lebih baik dibanding rekan-rekan mereka asal Desa Sugihwaras yang berada di tempat pengungsian Desa Tawang. Saat tiba di lokasi pengungsian pada Selasa malam, mereka langsung diberi air mineral dalam kemasan dan aneka roti kering dalam kaleng. "Rabu pagi, seluruh pengungsi sudah mendapat pasokan makan nasi bungkus dan minuman air kemasan yang kita terima dari Satlak Kecamatan," ujar Sapto Wahyono (39) petugas Satlak setempat.

Dari catatan Posko Satlak PBP Kecamatan Wates menunjukkan, dari 898 pengungsi di Segaran, tidak kurang dari 600 pengungsi memilih pulang dengan alasan menengok rumah dan berjanji kembali lagi ke tempat pengungsian sebelum malam tiba.

Beberapa pengungsi mengeluhkan lambatnya respons aparat untuk menyediakan bahan makanan dan menyiapkan sarana MCK yang memadai. Lebih dari itu, mereka berharap agar tenaga keamanan, baik dari Polri maupun Kodim dapat memberi jaminan untuk mengamankan harta benda penduduk yang ditinggalkan. [070]


© Copyright 2008 by PAPUAPost.com