KRONOLOGIS KEJAHATAN RUMAH SAKIT PMI BOGOR, INDONESIA

Kategori: Laporan Khusus, Bio-Terror
Oleh Koteka Webmaster
Feb 27, 2008 - 2:04:12 PM

KERJA SAMA PROYEK PEMERINTAH DAN LEMBAGA UNIVERSITAS CENDERAWAS
Pada umumnya masyarakat Asli Papua rata-rata 80% menyelekolahkan anaknya di luar Papua di berbagai perguruan tinggi. Niat baik masyarakat Papua dalam menyekolah kan anak-anaknya diberbagai perguruan tinggi, seperti di bogor, disana ada satu institusi perguruan tinggi khususnya bidang pertanian, adalah institut pertanian bogor(IPB). Institut pertanian bogor, disana juga ada keponakan saya juga terdaftar sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor, ia mengenyam pendidikan selama tiga dekade( tiga tahun semester), kondisi kesehatannya dalam keadaan baik-baik saja. Namun setiap manusia pasti saja tidak bisa lolos dari serangan penyakit yang akan menyerangnya, semua pasti akan diserang wabah penyakit, aktivitas kuliah berjalan seperti biasa tetapi dengan latar belakang pendapatan orangtua yang terbatas, juga tidak didukung dengan pemerintah setempat, dalam hal ini Pemda Kabupaten Boven Digoel, seperti memberikan pelayanan berupabantuan dana jarang dilakukan, sehingga timbul berbagai persoalan di tingkat kalangan mahasiswa-mahasiswi seperti saudara kami,akibat dari ketidak seriusan itu bisa menyebabkan, mahasiswa – mahasiswi terlantar, juga kadang-kadang kurang makan dan minum yang baik, maka mudah diserang penyakit, dengan satu alternatif yang bisa mengatasi adalah dengan jalan berobat, tetapi berobat berarti uang, maka dampaknya bisa berakibat fatal, seperti yang dialami   keponakan saya yakni Oskar Mandewop, ia korban akibat perawatan para medis yang bertugas di Rumah Sakit PMI Bogor.

 

Awal mula kejadian adalah korban merasa sakit diasrama mahasiswa Papua bogor. Kesakitan yang dialami oskar . mandewop, kesakitan pertama kali dialami korban adalah,  korban merasa kepalanya nyut-nyut (kepala pening), menurut kepastian teman-teman korban, bahwa korban sedang sakit malaria sehingga teman-teman merasa sangat perlu sekali korban diantar kerumah sakit, agar ada pemeriksaan dari pihak medis yang bertugas di rumah sakit PMI. Dari hasil pemeriksaan lewat pengambilan darah melalui ujung jari tangan bahwa korban positif terserang penyakit malaria demam berdarah, sehingga korban secepatnya harus diatasi pihak medis, maka korban di bawah ke ruang unit gawat  darurat (UGD), karena situasi kondisi korban pada saat itu semakin para, demi menyelamatkan korban, teman-temannya menghantarkan korban  kerumah sakit yang ke dua kalinya kerumah sakit yang sama, yakni Rumah Sakit PMI, pada saat itulah korban dikeroyok oleh para medis yang lagi melakukan praktek, terutama para calon dokter dan suster, pada saat itu korban sangat parah kesakitannya, korban karena tidak bisa menahan rasa sakit, korban merontak dan membanting-banting diri, keluar jalan-jalan, karena menurut korban, bahwa jika saya tidur, rasanya kepala akan pecah, sehingga untuk menenangkan kesakitan dalam tubuh saya, alternatif nya saya harus duduk/berdiri jalan supaya rasa sakit itu bisa agak tenang, lalu saya bisa tidur tenang sambil menjalani perawatan dari para medis praktek itu katanya; tetapi menurut para medis praktek yakni Dokter. A. HAN, korban dikatakan sedang sakit dalam, ketika ditanya oleh teman-teman korban, dokter praktek(A.Han) mengatakan korban menderita karena sakit dalam, tetapi tidak ada penjelasan yang sejelas-jelasnya. Setiap kali ditanya, penjelasan dokter praktek hanya “korban menderita karena penyakit dalam”, sementara untuk menenangkan pasien perawatan dengan cara suntik dilakukan berturut-turut sebanyak  7 kali suntik obat penenang dalam tubuh korban.

 

Pertama sekali korban dibawah ke rumah sakit orang gila, disana korban mendapatkan perawatan suntik obat penenang sebanyak tiga kali, korban merasa sadar, kemudian di pindakan keruang rawat inap, diruang rawat inap, pada saat yang bersamaan korban disuntik obat penenang sebanyak 4 kali pengobatan suntik,  tetapi penyakit malaria itu kembali menyerang saraf korban dibagian kepala, korban tidak bisa tahan lagi, korban berteriak memintah tolong pada saat itu, tetapi pada saat itu, teman-teman  korban sudah tidak berada di Rumah Sakit PMI tersebut, akhirnya apa yang terjadi, korban dijadikan sebagai tempat praktek para medis, dengan melakukan suntikan yang kedua kalinya pada saat yang sama pulah. Korban tenang dan tidur, kelebihan dosis tinggi yang diberikan oleh dokter praktek terhadap korban, karena ketidak tahuan mereka menyebabkan korban bangun ketiduran di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit PMI, korban sudah tak dapat melihat lagi, selaput matanya rusak setelah diperiksa salah seorang dokter praktek katanya; selaput matanya rusak dan terinfeksi, untuk itu korban diharuskan berobat mata dan dilanjutkan pengobatan penyakit awal, tetapi sayangnya malahan tidak ada perubahan, melainkan menurut keterangan korban bahwa mulut, tubuh bagian kanan, kaki dan tangan yang di ikat terasa bertamba keram-keram dan tidak bisa dapat berbuat apa-apa lagi. Kata korban pelayanan kesehatan yang saya rasakan tidak seperti pasien lain, tetapi saya seolah-olah dijadikan sebagai alat uji coba (praktek) oleh mahasiswa-mahasiswi yang menjalankantugas praktek magang disitu.

 

Mendengar penderitaan korban keluarga pihak korban keganasan rumah sakit PMI, keluarga korban langsung berangkat ke Bogor dan membawah pulang korban. Kini korban sedang melakukan perawatan dirumahnya dengan mata dan tubuh yang begitu lumpuh total, korban tidak dapat melakukan aktivitas sendiri, kecuali diantar atau di bembeng.




Komentar Pembaca