Pada umumnya masyarakat Asli Papua rata-rata 80%
menyelekolahkan anaknya di luar Papua di berbagai perguruan tinggi. Niat baik
masyarakat Papua dalam menyekolah
kan
anak-anaknya diberbagai perguruan tinggi, seperti di
bogor,
disana ada satu institusi perguruan tinggi khususnya bidang pertanian, adalah
institut pertanian
bogor(IPB).
Institut pertanian
bogor,
disana juga ada keponakan saya juga terdaftar sebagai mahasiswa Institut
Pertanian Bogor, ia mengenyam pendidikan selama tiga dekade( tiga tahun semester),
kondisi kesehatannya dalam keadaan baik-baik saja. Namun setiap manusia pasti
saja tidak bisa lolos dari serangan penyakit yang akan menyerangnya, semua
pasti akan diserang wabah penyakit, aktivitas kuliah berjalan seperti biasa
tetapi dengan latar belakang pendapatan orangtua yang terbatas, juga tidak
didukung dengan pemerintah setempat, dalam hal ini Pemda Kabupaten Boven
Digoel, seperti memberikan pelayanan berupabantuan dana jarang dilakukan,
sehingga timbul berbagai persoalan di tingkat kalangan mahasiswa-mahasiswi
seperti saudara kami,akibat dari ketidak seriusan itu bisa menyebabkan,
mahasiswa – mahasiswi terlantar, juga kadang-kadang kurang makan dan minum yang
baik, maka mudah diserang penyakit, dengan satu alternatif yang bisa mengatasi
adalah dengan jalan berobat, tetapi berobat berarti uang, maka dampaknya bisa
berakibat fatal, seperti yang dialami
keponakan saya yakni Oskar Mandewop, ia korban akibat perawatan para
medis yang bertugas di Rumah Sakit PMI
Bogor.
Awal mula kejadian adalah korban merasa sakit diasrama
mahasiswa Papua
bogor.
Kesakitan yang dialami oskar . mandewop, kesakitan pertama kali dialami korban
adalah, korban merasa kepalanya
nyut-nyut (kepala pening), menurut kepastian teman-teman korban, bahwa korban
sedang sakit malaria sehingga teman-teman merasa sangat perlu sekali korban
diantar kerumah sakit, agar ada pemeriksaan dari pihak medis yang bertugas di
rumah sakit PMI. Dari hasil pemeriksaan lewat pengambilan darah melalui ujung
jari tangan bahwa korban positif terserang penyakit malaria demam berdarah,
sehingga korban secepatnya harus diatasi pihak medis, maka korban di bawah ke
ruang unit gawat darurat (UGD), karena
situasi kondisi korban pada saat itu semakin para, demi menyelamatkan korban,
teman-temannya menghantarkan korban
kerumah sakit yang ke dua kalinya kerumah sakit yang sama, yakni Rumah
Sakit PMI, pada saat itulah korban dikeroyok oleh para medis yang lagi
melakukan praktek, terutama para calon dokter dan suster, pada saat itu korban
sangat parah kesakitannya, korban karena tidak bisa menahan rasa sakit, korban
merontak dan membanting-banting diri, keluar jalan-jalan, karena menurut
korban, bahwa jika saya tidur, rasanya kepala akan pecah, sehingga untuk
menenangkan kesakitan dalam tubuh saya, alternatif nya saya harus duduk/berdiri
jalan supaya rasa sakit itu bisa agak tenang, lalu saya bisa tidur tenang
sambil menjalani perawatan dari para medis praktek itu katanya; tetapi menurut
para medis praktek yakni Dokter. A. HAN, korban dikatakan sedang sakit dalam,
ketika ditanya oleh teman-teman korban, dokter praktek(A.Han) mengatakan korban
menderita karena sakit dalam, tetapi tidak ada penjelasan yang
sejelas-jelasnya. Setiap kali ditanya, penjelasan dokter praktek hanya “korban
menderita karena penyakit dalam”, sementara untuk menenangkan pasien perawatan
dengan cara suntik dilakukan berturut-turut sebanyak 7 kali suntik obat penenang dalam tubuh
korban.
Pertama sekali korban dibawah ke rumah sakit orang gila,
disana korban mendapatkan perawatan suntik obat penenang sebanyak tiga kali,
korban merasa sadar, kemudian di pindakan keruang rawat inap, diruang rawat
inap, pada saat yang bersamaan korban disuntik obat penenang sebanyak 4 kali
pengobatan suntik, tetapi penyakit
malaria itu kembali menyerang saraf korban dibagian kepala, korban tidak bisa
tahan lagi, korban berteriak memintah tolong pada saat itu, tetapi pada saat
itu, teman-teman korban sudah tidak
berada di Rumah Sakit PMI tersebut, akhirnya apa yang terjadi, korban dijadikan
sebagai tempat praktek para medis, dengan melakukan suntikan yang kedua kalinya
pada saat yang sama pulah. Korban tenang dan tidur, kelebihan dosis tinggi yang
diberikan oleh dokter praktek terhadap korban, karena ketidak tahuan mereka
menyebabkan korban bangun ketiduran di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit PMI, korban
sudah tak dapat melihat lagi, selaput matanya rusak setelah diperiksa salah
seorang dokter praktek katanya; selaput matanya rusak dan terinfeksi, untuk itu
korban diharuskan berobat mata dan dilanjutkan pengobatan penyakit awal, tetapi
sayangnya malahan tidak ada perubahan, melainkan menurut keterangan korban
bahwa mulut, tubuh bagian kanan, kaki dan tangan yang di ikat terasa bertamba
keram-keram dan tidak bisa dapat berbuat apa-apa lagi. Kata korban pelayanan
kesehatan yang saya rasakan tidak seperti pasien lain, tetapi saya seolah-olah
dijadikan sebagai alat uji coba (praktek) oleh mahasiswa-mahasiswi yang
menjalankantugas praktek magang disitu.
Mendengar penderitaan korban keluarga pihak korban keganasan
rumah sakit PMI, keluarga korban langsung berangkat ke
Bogor dan membawah pulang korban. Kini korban
sedang melakukan perawatan dirumahnya dengan mata dan tubuh yang begitu lumpuh
total, korban tidak dapat melakukan aktivitas sendiri, kecuali diantar atau di
bembeng.