Pahlawan dalam Gemuruh Individualisme

Kategori: Media Lain
Oleh SPDaily, Toto Sugiarto
Nov 13, 2007 - 3:52:36 AM
Halaman ke: 1 2

Editorial SPDaily
Panggal 10 November kembali diperingati sebagai Hari Pahlawan. Peringatan yang semakin terasa sebagai kenangan masa lalu. Semakin sulit bagi Ibu Pertiwi untuk menemukan "anaknya" yang masih benar-benar layak menyandang gelar tersebut.

Sekarang, banyak orang seakan-akan hanya berpikir mengenai dirinya pribadi. Seluruh tindakannya mencerminkan sikap oportunistik. Hampir tidak ada lagi anak bangsa yang mampu berpikir melampaui diri, sehingga dapat sepenuh jiwa-raga berjuang tanpa pamrih demi kebaikan rakyat, bangsa, dan negara.

Seandainya Bung Karno masih hidup dia akan bertanya-pedih: "Kenapa kau singkirkan warisanku, buah pikiran yang kugali dari endapan budaya bangsa?" Bung Karno dan para founding fathers lainnya akan menyesalkan kenyataan bahwa penerusnya kurang memegang teguh nilai-nilai karakter bangsa. Jati diri bangsa tampaknya semakin pucat. Warisan yang berasal dari nilai-nilai karakter bangsa itu adalah Pancasila, yang menurut Bung Karno, dapat diringkaskan ke dalam satu sila, yaitu gotong-royong.

Dalam nuansa Hari Pahlawan ini, Republik terlihat dipenuhi oleh egois-egois tulen. Kehidupan hanya didasarkan pada pertukaran dan jual-beli, tidak ada lagi pengorbanan, altruisme dan patriotisme. Pasar diadopsi ke dalam berbagai sistem kehidupan. Setiap orang bermetamorfosis menjadi "manusia ekonomi" murni, bertingkah laku baik terhadap orang lain dengan didasari pamrih bahwa orang tersebut memberikan sesuatu yang dia inginkan. Tidak ada istilah tanpa pamrih, kehidupan berubah menjadi persis seperti penjual dan pembeli di pasar. Dalam kondisi seperti ini, masih mungkinkah muncul seorang pahlawan?

Semangat gotong-royong, dalam arti "Bersama Menegakkan Indonesia", seperti dicampakkan. Gotong-royong, dalam arti "Bersama Kita Bisa", bagi kalangan pejabat dan elite partai tak lebih sebagai jargon pemilu yang dilupakan setelah kursi kekuasaan diperoleh. Tidak ada lagi kebersamaan setelah berkuasa, yang ada adalah ke-aku-an. Akulah yang berhak mendapat gaji puluhan juta rupiah, akulah yang berhak jalan-jalan ke luar negeri atas biaya negara, akulah yang berhak men- dapat fasilitas super-mewah dari negara, akulah yang berhak mendapat fee dari impor beras dan kebijakan politik lainnya. Masa bodoh dengan penderitaan petani dan rakyat lainnya.

Dalam kondisi seperti itu, asas gotong-royong telah dicederai. Kurang dari seabad setelah digali oleh Bung Karno, karakter bangsa itu memudar. Pancasila semakin pucat dan tak lebih sebagai simbol tanpa makna. Akibatnya, sosok pahlawan tinggal kenangan yang hanya bisa dirindukan.


Melawan Individualisme

Dalam deru individualisme yang semakin bergemuruh masih mungkinkah menyemai harapan akan munculnya pahlawan? Bentuk kepahlawanan seperti apa yang dibutuhkan bangsa sekarang dan di masa depan? Bagaimana menumbuh-kembangkan nilai-nilai kepahlawanan di tengah iklim yang kontraproduktif terhadapnya?

Kepahlawanan yang dibutuhkan bangsa sekarang ini bukan hanya individu yang berani mengangkat senjata atau berperang melawan musuh dari luar. Kepahlawanan sekarang ini adalah juga berarti, sikap mengedepankan kepentingan bersama sebagai bangsa, keluar dari arus individualisme yang bergemuruh. Kepahlawanan sekarang ini adalah juga berperang melawan diri sendiri, melawan egoisme pribadi. Inilah sosok altruis dan patriotik yang rela berkorban dan berjuang tanpa pamrih.

Harapan akan munculnya pahlawan akan menjadi kenyataan apabila terdapat program aksi untuk menciptakan persemaian yang baik bagi tumbuh berkembangnya nilai-nilai kepahlawanan, yakni nilai- nilai altruis dan patriotik. Pemikiran teoritisnya adalah dengan merevitalisasi semangat gotong-royong dengan sendirinya akan melemahkan individualisme.

Masalahnya, bagaimana cara menghidupkan kembali semangat gotong-royong. Kuncinya ada pada bagaimana menembus nurani setiap anak bangsa untuk melawan egoisme dan individualisme. Perang terbesar sekarang ini adalah perang melawan hawa nafsu. Ini adalah masalah setiap individu. Bagaimana setiap inidividu berperang melawan nafsu di dalam dirinya, bagaimana mengikis habis sifat individualismenya itu.

Dalam arus individualisme, materialisme dan, konsumerisme, pemikiran ini tampak berada di luar batas kelembaman rakyat yang terlihat telah mengalami perubahan dari karakter sebelumnya. Sekilas tampak mustahil mengharap munculnya individu yang dapat membebaskan diri dari arus besar ini. Namun, bukankah pahlawan adalah sosok yang terbebas dari arus besar, terbebas dari belenggu kecenderungan masyarakat. Sosok yang mampu menentang keajekan-keajekan pada masanya demi pembelaan terhadap kebenaran. Pahlawan adalah individu luar biasa. Oleh karena itu, di tengah semakin pucatnya perayaan Hari Pahlawan, di tengah semakin bergemuruhnya individualisme, munculnya orang yang menang dalam perang besar melawan nafsu individualisme sehingga layak disebut sebagai pahlawan, kiranya tetap bisa diharapkan.


Penulis adalah Peneliti pada Soegeng Sarjadi Syndicate


Lanjut baca sambungan di halaman: 1 2


Komentar Pembaca