Dalam perbincangan santai dengan SH di sebuah kafe di Jakarta, Sabtu (15/3),
Nick Messet mengungkapkan perjalanan hidupnya di luar negeri ketika menjadi
warga negara Swedia. Melakukan lobi ke berbagai negara untuk mendapatkan
dukungan perjuangan Papua Merdeka, sampai dia kembali lagi menjadi warga negara
Indonesia (WNI).
“Saya komitmen kembali dan tidak akan bermuka dua. Saya telah meninggalkan OPM
dan tidak akan kembali lagi untuk perjuangan Papua Merdeka. Karena apa yang
saya lihat di luar atau di dalam perjuangan untuk itu ternyata nol besar,”
tegasnya.
Nick Messet meninggalkan Irian saat usia 43 tahun tanggal 3 September 1969 dari
Porasko, Jayapura dengan menggunakan perahu bermotor dan mendarat di Panimo,
Papua Nugini (PNG), 4 Desember 1969 pukul 09.00 waktu setempat. Hampir dua
tahun di kamp pelarian di satu tempat di PNG, kemudian mendapat beasiswa dari
Australia, masuk sekolah pilot dan menjadi penerbang.
Awal mula perjuangan untuk Papua Merdeka, telah dimulainya pada saat usia 14 tahun, walaupun ia bertentangan dengan ayahnya, Tjontje Messet, seorang pejabat Republik Indonesia yang kemudian menjadi Bupati Jayapura.
Bapaknya sebagai Ketua Dewan Papua yang beranggotakan sebelas orang waktu itu,
pada 30 April 1963 melakukan sidang Dewan Papua. Kalau waktu itu ayahnya
mengetok palu memutuskan menyerahkan wilayah Papua ke negara, Papua bisa saja.
Tetapi ayahnya mengatakan tidak, dan harus kembali menghormati perjanjian
Agreement New York dan menyerahkan kepada Presiden Soekarno waktu itu tanggal 1
Mei 1963, untuk membentuk Dewan Perwakilan Rakyat yang baru dan bergabung
dengan NKRI.
Sebagai ketidaksenangan dan ketidakpuasan dengan kondisi di Papua saat itu, Nick
Messet nekat melarikan diri ke luar negeri. Sebagai pemegang paspor Swedia,
untuk perjuangan Papua Merdeka ia bebas ke berbagai negara. Gejolak yang
terjadi di Papua saat terbunuhnya Theys Eluay 10 November 2001, dia selama 1,5
tahun sempat tinggal di Jakarta secara ilegal untuk menyelidiki dan mengetahui
siapa sebenarnya pembunuh Theys.
Pada 1 April 1994 pada hari Jumat Agung, pertama kali ia masuk Papua dari PNG,
diajak oleh Franzalbert Joku. Setelah perjuangan untuk Papua Merdeka di luar
negeri maupun di dalam negeri tidak membawa hasil, ia bersama Franzalbert Joku
memutuskan kembali menjadi WNI dan ikut membangun Papua.
Orang Papua Membangun
“Saya tidak lagi OPM yang artinya Organisasi Papua Merdeka. Tetapi saya sekarang OPM yang artinya Orang Papua Membangun,” ujarnya berseloroh. Orang Papua itu harus dididik untuk tidak berfoya-foya dan bermuka dua.
Menjawab pertanyaan bagaimana kalau dicap sebagai pengkhianat oleh teman-teman seperjuangan, Nick Messet mengatakan, “Silakan, memang setiap orang punya hak untuk bicara dan berbuat.”
Ia juga mengaku akan melakukan perjalanan keliling ke luar negeri untuk menemui
rekan-rekannya dan mengajak kembali bersama-sama untuk membangun Papua.
Keinginan ini telah disampaikan kepada pemerintah, tujuannya untuk menyampaikan
informasi keadaan di Papua setelah ada Undang-undang Otonomi Khusus yang
menjadi kewajiban bagi semua orang Papua untuk melaksanakannya.
Bendera Bintang Kejora itu dibuat 19 Oktober 1961. Penciptanya adalah Nicholas
Youwe yang sekarang masih berada di negeri Belanda. Pada saat ia membuat
bendera itu banyak orang tidak tahu, bahkan masih sampai sekarang mengatakan
itu bendera kultural orang Papua, padahal yang benar adalah bendera perjuangan
Papua Merdeka.
Nicholas Youwe adalah tokoh OPM pertama, berdomisili di Den Haag. Bendera
Bintang Kejora yang asli masih terpasang di ruang kerja Nicholas Youwe di Den
Haag. Kamar tersebut adalah kamar pribadi dan tidak sembarang orang bisa
melihat bendera itu. Istrinya sekalipun dilarang masuk ruang kerjanya. Ia
berpesan kepada anaknya jika telah meninggal dunia, bendera itu harus masuk ke
dalam peti jenazahnya. Nicholas Youwe lahir 24 Desember 1924.
Menjawab pertanyaan apakah ada usaha untuk mengajak Nicholas Youwe kembali ke
Papua, Nick Messet mengatakan hal itu sudah direncanakan dan dia bersedia untuk
kembali untuk bersama-sama berada di Indonesia. Hanya dia mengharapkan, semua
pejuang Papua Merdeka yang berada di luar negeri dan telah sadar untuk kembali,
mendapat jaminan dari pemerintah.
Nick Messet mengatakan, dengan adanya UU Otsus dengan kucuran dana yang begitu besar, tentunya ke depan dapat menyejahterakan semua orang Papua. Namun kenyataannya, belum menyejahterakan orang Papua dan hanya dinikmati sebagian masyarakat. n