JAYAPURA [Cepos] - Dalam konteks Papua,
Nasionalisme bukan sekedar cium bendera, hafal Pancasila, ikut upacara dan
seterusnya. Namun nasionalisme haruslah yang kontekstual. “Nasionalisme adalah
sekolah gratis, pelayanan kesehatan murah, lampu tidak padam, air bersih bagus,
hutan terjaga, kesejahteran meningkat dan seterusnya,” ungkap Sekjen Presidium
Dewan Papua, Thaha Alhamid saat ditanya wartawan seusai menjadi pemateri dalam
Dialog Publik KNPI Provinsi Papua yang digelar di Hotel Yasmin, Sabtu
(19/1).
Hal penting lainnya, lanjut Thaha, keadilan sosial dan ekonomi harus
diwujudkan, kemudian penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia, dan hal yang tidak
boleh ditinggalkan adalah birokrasi yang bersih dari korupsi. “Jika korupsi
jalan terus, maka sama saja dengan membunuh rakyat Papua, sebab rakyat akan
semakin menderita. Oleh sebab itu, pemerintah harus konsisten dalam
pemberantasan korupsi,” ujarnya.
Menurutnya, adalah hal yang sangat lucu jika di usia 6 tahun ini, Otsus
masih berkutat pada aspek simbolik dengan terus mempersoalkan nasionalis kontra
tidak nasionalis. “Meski Bintang Kejora naik, Papua belum tentu merdeka. Yang
mesti dikibarkan di tiang paling tinggi adalah untuk Papua Baru adalah bendera
hak hidup, bendera kesejahteraan rakyat, bendera penghormatan Hak Asasi Manusia,
serta bendera keadilan social dan keadilan ekonomi,” pungkasnya.
Dikatakan, selama ini, orang sibuk bicara soal symbol atau masalah larangan
Bintang Kejora dijadikan lambang daerah, padahal semestinya ada agenda-agenda
penting untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang hingga saat ini masih
diabaikan. “Stop bicara soal lambang. Kita harus berani berhenti bicara symbol.
Kita harus bicara hal yang substansial. Itu yang paling pokok,”
tandasnya.
Thaha menyatakan, Pemerintah boleh melarang Bintang Kejora untuk dijadikan
symbol dengan Peraturan Pemerintah No. 77 Tahun 2007, akan tetapi hal itu tidak
boleh menyita perhatian untuk bicara hal yang penting dalam upaya mewujudkan
kesejahteraan rakyat. “Karena itu saya usul supaya DPRP, MRP, gubernur untuk
berhenti bicara symbol. Sekarang bicaralah mengenai grand strategi mengenai
pendidikan, kesehatan dan seterusnya. Mana grand desain pembangunan ekonomi,”
ucapnya.
Thaha berkeyakinan, ada atau tanpa bendera, perjuangan rakyat Papua untuk
menyuarakan aspirasinya akan tetap jalan, selama pemerintah tetap menerapkan
ketidakadilan social, ketidak adilan ekonomi, korupsi merajalela dan
seterusnya.
Sementara itu di tempat yang sama, Manager Wahana Visi Indonesia (WVI) ADP
Keerom, Benny Sweny kepada Cenderawasih Pos mengatakan, Otsus bukan
segala-galanya, namun yang perlu adalah keseriusan Pemda untuk mengembangkan
system monitoring untuk melihat indicator pencapaian dari Otsus itu sendiri.
“Untuk itu, indicator untuk mengukur keberhasilan Otsus itu harus ditetapkan.
Jika tidak ada indikatornya, lalu kita mau mengawasi dari sisi mananya,” ujar
Sweny. Terkait hal ini, peran pemuda sangat penting, diantaranya, pemuda harus
bisa merumuskan grand strategi untuk mensukseskan Otsus. “Ini yang perlu
dirumuskan,” tandasnya.
(fud)
___________________________________
Sumber: SKH Cenderawasih Pos
Edisi: 22 Januari 2008 02:13:27