DAP Dukung Investigasi Kematian Theys

Kategori: Teror Militer, Lawan Neokoloni
Oleh Cepos, Laporan: Abdel g. naser / Jimmy, Sentani
Nov 16, 2007 - 6:44:45 AM

Dari Peringatan Mengenang 6 Tahun Wafatnya Ketua Dewan Presidium Papua Theys H. Eluay
Tak terasa 6 tahun sudah kematian Ketua Dewan Presidium Papua Theys Hiyo Eluay. Kematian yang begitu kontroversial ini memang menyisakan banyak pertanyaan di kalangan masyarakat Papua. Apa saja yang dilakukan masyarakat dalam peringatan tersebut?

WAKTU rasanya terus bergulir. Tak terasa 6 tahun sudah kematian tokoh Papua Theys H.Eluay. Kenangan akan Theys memang tidak akan pernah hilang dari hati dan pikiran masyarakat Papua. Masyarakat kini hanya bisa mengenang perjuangan yang dilakukan oleh pria berjanggut ini.
Sebagai bentuk rasa penghormatan, Rabu (14/11) lalu, masyarakat melakukan upacara baik di pendopo Theys di Helebhei Obhee, Sentani, juga dilakukan ziarah ke makam Theys, ke Bistir Pos Sentani yang dilakukan oleh Dewan Adat Papua (DAP).

Peringatan kematian Theys itu sendiri diawali dengan rangkaian satu ibadah yang berjalan penuh hikmat, oleh segenap peserta yang hadir pada saat itu. Pendeta Newton Mokay yang pada saat itu menyampaikan Firman Tuhan meyakinkan peserta yang hadir saat itu lewat khotbahnya kalau sebenarnya Allah mempunyai suatu rencana yang besar buat orang Papua seperti hal yang pernah dibuatnya kepada Yusuf dalam cerita Alkitab.

Upacara tersebut berlangsung khimat dengan dihadiri oleh Ketua DAP Forkorus Yaboi Sembut, juga sejumlah tokoh adat, tokoh pemuda, ondoafi, ondofolo dan kepala suku.

Dalam kesempatan tersebut Forkorus menyampaikan niatnya untuk memberikan dukungan secara moril kepada PDP guna pengungkap motif kematian Theys. “Saya yakin masyarakat masih berduka atas perbuatan yang dilakukan oknum-oknum tersebut. Kami minta agar hukum bisa ditegakkan tanpa melihat siapa pelakunya sekalipun,” jelasnya.

Mengenai hilangnya Aristoteles yang hingga kini masih misteri, dugaan kuat Forkorus bahwa supir pribadi almarhum yang masih duduk di bangku STM ini telah tewas. “Informasi yang bisa dipercaya menyebutkan bahwa Ari (panggilan akrab Arsitoteles) tewas tak lama kemudian usai makan bersama, hanya saja jasadnya yang kini belum diketahui dan dengan itu kami juga mendukung pengusutan soal hilangnya Ari,” jelas Forkorus.

Setelah ibadah maka kembali lagi Pendeta Newton Mokay mewakili Dewan Adat Sentani menyampaikan sambutannya pada kesempatan pertama. Sebagai Anak Adat Sentani dirinya mengatakan kalau sebenarnya dari peristiwa 6 tahun silam itu telah meninggalkan noda yang sangat besar sekali bagi seluruh Anak-anak Adat Sentani dan sulit untuk terlupakan. “Sebagai anak Adat Sentani saya menganggap peristiwa itu sebagai salah satu noda yang amat besar dan sulit terlupakan oleh kami”, ungkapnya.

Dalam acara peringatan tersebut juga diselingi dengan pemberian krans bunga dimakam Theys H. Eluay oleh peserta pada saat itu masing-masing mewakili Dewan Adat Sentani, Polri sebagai mitra masyarakat, Tokoh Pemuda, Dewan Presidium Papua, dan Dewan Adat Papua. Setelah Ziarah ke makam Theys usai peserta kembali ke Pendopo Theys, untuk malakukan jamuan kasih bersama.
Ketika dikomentari terkait kegiatan 1 Desember, Forkorus mengatakan kalau pada saat itu tetap akan ada kegiatan namun hanya sebatas ibadah. “1 Desember tetap ada kegiatan dan kemungkinan kita hanya ibadah seperti saat ini,” jelasnya. Dirinya mengatakan pula bahwa pihaknya akan membentuk panitia kegiatan 1 Desember namun pengaturan mekanisme kegiatan diserahkan sepenuhnya ke Dewan Presidium Papua (DPP).(*).



Komentar Pembaca