Dukung Langkah DPD

Kategori: Teror Militer
Oleh Cepos
Nov 9, 2007 - 9:17:42 PM

Boy Eluay: Soal Keinginan Investigasi Kamatian Theys
SENTANI-Niat Presidium Dewan Papua (PDP) untuk melakukan investigasi soal kematian almarhum Theys Hiyo Eluay, ditanggapi positif keluarga Theys.

Boy Eluay, anak tertua Alm Theys mengatakan, walau belum diberitahu tahu soal rencana tersebut, begitu juga dengan peluncuran buku tentang ayahnya, namun ia mengaku tetap mendukung keinginan DPD mengejar kematian ayahnya tersebut, sebab itu dianggap mewakili pertanyaan besar yang selama ini ada di benak setiap orang Papua.

Dengan gamblang pria kelahiran Sentani 38 tahun silam yang memiliki nama lengkap Michael Boy Eluay ini menuturkan tanggapannya soal keinginan untuk mengungkap rencana apa dibalik kematian itu. "Terima kasih juga buat PDP jika mau seperti itu, karena saya juga masih bingung mengapa dibunuh dan walau saya bisa menerima kematian itu, tetapi karena almarhum adalah milik semua jadi kami juga patut untuk memikirkannya dan mendukung," ungkap Boy yang ditemui Cenderawasih Pos di kediamannya di Jl Bistir Pos Sentani kemarin.

Hanya yang disesalkan dari rencana ini adalah mengapa pihak keluarga tidak ada yang diberitahukan sebelumnya. Begitu juga dengan peluncuran buku jejak kasus Theys hingga dengan berfikiran negatif Boy menegaskan agar momen-momen ini tidak dimanfaatkan untuk dijadikan sebuah "proyek".
Perjuangan almarhum ayahnya Theys dianggap tulus, murni dan jujur dan tidak ada kepentingan diri sendiri.Yang paling diingatnya adalah pesan soal perjuangan itu seperti yang dipesankan bahwa jangan meminta sesuatu dari masyarakat atas perjuangan yang sedang dilakukan."Sampai hari ini dimana saja dan kapan saja bahkan di depan pejabat manapun warna saya tidak pernah berubah,"tegasnya

Terkait putusan Pengadilan di Mahkamah Militer ke 3 di Surabaya terhadap pelaku pembunuhan Almarhum, Boy menegaskan kejahatan yang dilakukan adalah kejahatan Negara. Untuk itu penyelesaiannya diminta tidak dilakukan di Indonesia melainkan di luar negeri. Disamping itu perbuatan oknum-oknum Kopassus ini dikatakan adalah prajurit yang loyal kepada pimpinan sehingga tidak mudah untuk diungkap secara luas."Jujur saja kasus bapak jika diselesaikan di Indonesia tidak akan terungkap, karena ini kejahatan negara.Tidak mungkin negara mengadili negara," saran Boy kepada PDP untuk pegungkapan kasus ini jangan hanya dilakukan dari Indonesia.

Disamping itu muncul pandangan Boy soal pengadilan di Mahmil ke 3 Surabaya dianggap rekayasa. Begitu juga dengan putusan soal pemecatan anggota Kopassus yang diyakini tidak dipecat."Mereka masih aktif sampai sekarang dan itu jelas.Mengapa? karena mereka pahlawan, jadi tidak mungkin dilakukan pemecatan," ucap Boy yang mengaku tahu pola dan cara dari TNI AD jika menjatuhkan sanksi dengan nada meninggi. .Para pelaku pembunuhan almarhum digambarkan Boy sebagai pion dari permainan catur dengan demikian ada yang menggerakkan nah orang yang menggerakkan atau pemain inilah yang dianggap sebagai pemerintah."Jika ingin diadili disini (Indonesia) saya pikir tidak mungkin ini seperti benang kusut," tambahnya.

Disinggung soal sepengetahuan keluarga tentang motif pembunuhan, suami dari Antoneta Marweri ini mengakui semua sudah jelas 99% tentang politik, karena almarhum dianggap orang nomor satu yang sedang memperjuangkan kemerdekaan bagi Papua. Untuk itu berbagai cara dilakukan, termasuk cara kotor dan keji. Walau sebelumnya Boy mengaku sudah diwanti wanti oleh almarhum soal kematian tersebut dimana dikatakan jika dalam perjuangan ini akan terjadi apa-apa, sebelumnya telah diberitahukan dan ternyata ucapan tersebut menjadi kenyataan."Almarhum bapak sempat bilang bahwa dalam perjuangan ini dirinya akan diperlakukan seperti binatang, dibunuh ,"ungkapnya

Sebelum kematian almarhum, Boy sudah merasakan firasat-firasat kepergian almarhum, dimana saat masuk ke kamar almarhum, dirinya menemukan cincin merah delima yang biasa dipakai, lalu menemukan uang dan undangan dari kopassus di atas map berwarna kuning."Setelah keluar dari kamar saya dengan suara almarhum yang mengigatkan jika cincin itu tertinggal, maka secara langsung cincin itu diserahkan sebagai tongkat estafet kepepimpinan," kenang Boy pada pukul 22.00 WIT diwaktu kejadian. "Almarhum sempat bilang jika kematiannya akan seperti binatang dibunuh tetapi almarhum sempat menitipkan untuk tidak bersedih," tutur Boy yang mengaku paling mengetahui karakter almarhum yang memiliki ciri khas dari jenggot putihnya itu.

Soal kegiatan menyangkut peringatan kematian, ayah 7 anak ini Boy mengaku tidak ada kegiatan istimewa mengenang 6 tahun kematian ayahnya, tepat 10 November besok. Begitu juga dengan kegiatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat maupun PDP. "Memang ada, tetapi berbentuk ibadah biasa, sedangkan untuk ke lokasi makam mungkin tidak," tambahnya Boy seraya meminta kepada pihak-pihak yang memperjuangkan perjuangan ini agar jangan hanya ikat ramai membicarakan jika mendekat hari H sedangkan hari biasa seakan dilupakan.

Pantauan Cenderawasih Pos di lokasi makam yang terletak persis di pertigaan jalan masuk bandara itu tampak tidak ada persiapan khusus melangsungkan acara memperingati 6 tahun hari kematian alm Theys. Di lokasi makam yang berukuran 10x10 meter ini hanya tampak lebih bersih setelah rumput lapangan dipotong dan dibakar.Begitu juga dengan rumah almarhum Kamis kemarin tampak sepi, baik di halaman maupun kegiatan yang ada di rumah biru muda itu.(ade)


Lanjut baca sambungan di halaman: 1 2


Komentar Pembaca