Setelah Menhan AS Temui SBY
Setelah Menhan AS Temui SBY JAKARTA - Belum sebulan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan TNI melakukan penghematan. Instruksi tersebut menjadi mentah setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert M. Gates bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor presiden kemarin (25/2). Indonesia justru memesan enam pesawat tempur ke negara adidaya tersebut.
Robert M. Gates datang ke istana kepresidenan pukul 14.00. Gates disambut SBY di depan ruang tamu kantor presiden. Keduanya bersalaman dengan tangan kiri. SBY menyodorkan tangan kiri sebab, tangan kanan Gates harus digendong karena patah tulang, gara-gara terjatuh di rumahnya di Washington pekan sebelumnya. Selama satu jam, Gates berdiskusi dengan SBY yang didampingi Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono.
Menhan Juwono Sudarsono menjelaskan, AS akan memberikan bantuan alutsista kepada Indonesia. Salah satunya adalah bantuan untuk memperbarui pesawat Hercules dan F-16. Namun yang hampir kongkret adalah mengup-grade empat pesawat F-16 milik Indonesia dan memesan enam unit pesawat F-16.
Empat pesawat F-16 milik Indonesia merupakan pesawat buatan 1970-an atau generasi pertama. Sedangkan enam pesawat yang akan dipesan adalah F-16 generasi ke-empat, buatan 1990. ''Kalau yang baru sekali saya kira tidak, sebab yang baru sekali terlalu mahal. Tak lebih dari 15 tahun. Tapi generasi 90-an yang disebut generasi ke-4 tentu kita pertimbangkan. Tidak terlalu baru tapi tidak terlalu lama,'' kata Juwono.
Alasan membeli pesawat baru, kata Juwono, karena ke depan harus memperhatikan kesetaraan pesawat tempur yang dimiliki Indonesia dengan negara-negara tetangga. Jangan sampai Indonesia tertinggal terlalu JAUH dengan negara tetangga di bidang pertahanan. Apalagi wilayah Indonesia sangat luas.
Kalau enam F-16 gerenerasi keempat jadi di beli, berarti Indonesia akan memiliki sepuluh F-16. Pesawat tersebut harganya masing-masing USD 30 juta atau Rp 273 miliar (kurs USD 1 = Rp 9.100). Ini harga untuk pesawat dan senjatanya. Kalau enam unit berarti totalnya sekitar Rp 1,422 triliun. Namun Menhan mengaku harus berkonsultasi dulu dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani. ''Pastinya nanti tergantung berapa saya dapat dari Menkeu,'' katanya.
Menurut Juwono, keenam pesawat F-16 itu akan dibeli dalam kurun waktu 4-5 tahun mendatang. Sistem pembeliannya ada dua alternatif yakni FMS (foreign military sales) atau FMF (foreign military financing). Jika alternatif yang kedua (FMF) yang dipakai maka skema pembiayaannya masih harus dibahas secara detail. Terutama prosentase bunga dan jangka waktu pelunasan. Itu mengingat Menteri Keuangan Sri Mulyani sedang berjuang untuk melakukan penyelamatan APBN yang terancam kolaps karena harga minyak meningkat.
Kerjasama lain yang akan dilakukan dengan militer AS adalah surveillance. Bentuknya berupa bantuan teknis pemasangan radar di tujuh titik atau selat di Indonesia untuk polisi air, udara maupun angkatan laut.
Alasan utama AS membantu Indonesia, kata Juwono, karena AS melihat TNI perlu ditingkatkan kemampuan efektifnya, baik alat angkut transportasi maupun pesawat tempur. Juwono juga membantah kalau ini terkait dengan persaingan penjualan alutsista antara AS dan Rusia.
''Tidak ada persaingan apapun. Karena Indonesia negara yang penting, dari segi kepentingan strategis politik, ekonomi, maupun Hankam. Amerika tidak keberatan Indonesia memakai alat tempur dari Rusia,'' kaya Juwono.
Menurut Juwono, baik di AS maupun Rusia sama-sama ada masalahnya. Selama ini untuk pembelian alutsista ke Rusia kendalanya justru ada di depkeu. Sedang di AS, sedikit ada kendala birokrasi yakni di dalam Pentagon maupun kongres.
Menhan Robert Gates kepada wartawan di kantor presiden mengatakan dalam pertemuan dengan SBY membahas berbagai isu. Mulai dari soal demokrasi hingga soal kerjasama militer. ''Secara khusus AS mendukung reformasi TNI Indonesia. khususnya dalam mengembangkan kapabilitas di alat angkut udara dan maritim. bisa dengan cara pelatihan, dan juga penyediaan peralatan. Amerika siap utk membantu apapun yg kami bisa,'' kata Gates.
Soal kendala birokrasi dalam pembelian alutsista di AS, Gates mengakui masih ada. Namun dengan itikad baik dan kerja keras, Gates berjanji untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan departemen keuangan AS.
''Banyak hal yang kita hadapi berhubungan dengan regulasi dan kami mungkin akan membahasnya dan bertanya kepada kongres AS tentang hal ini,'' kata Gates.
Dalam kesempatan tersebut Gates sempat ditanya soal kontroversi buku Menkes Siti Fadillah Supari yang berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Yakni tentang tuduhan Menkes bahwa AS memakai sample virus H5N1 untuk pembuatan senjata biologi.
Gates langsung membantah tudingan tersebut. Menurut Gates, dalam pertemuan dengan SBY sama sekali tidak dibahas soal buku menkes. ''Tidak benar pemerintah Amerika membuat senjata bilogis dengan virus H5N1. Saya sangat tidak setuju dengan tesis yang disampaikan menteri (Menkes Siti Fadillah Supari, Red) itu,'' katanya.
Diplomasi Juwono
Sebelum bertemu presiden, Gates yang mendarat pukul 11 di Jakarta itu terlebih dulu menemui Menhan Juwono di kantornya, Jalan Merdeka Barat. Gates diiringi dua mobil pengawal khusus dari US Secret Service masuk ke Dephan pukul 12.55. Juwono yang setengah jam sebelumnya masih rapat dengan Komisi 1 DPR soal pemotongan anggaran di Senayan menyambut ditemani para Dirjen. Sekjen Dephan Letjen Sjafrie Sjamsoeddin tidak mendampingi karena masih berada di Gedung DPR Senayan.
Pertemuan dengan Juwono digelar tertutup selama 55 menit. Gates langsung menuju kantor presiden tanpa memberi keterangan pada wartawan. Sumber koran ini yang ikut dalam pertemuan itu menceritakan suasana diskusi antara Gates dan Juwono sangat hidup dan hangat. "Mereka seperti sahabat lama yang berdiskusi," katanya.
Dalam obrolan di ruang tamu VIP menteri itu Gates memuji-muji keberhasilan reformasi TNI. Gates juga menyampaikan tentang membaiknya kerja sama militer AS-RI. Misalnya, dalam dua tahun terakhir ini sudah dilakukan 100 kegiatan latihan bersama antara militer AS dan TNI. Selain itu, program pelatihan bagi perwira menengah TNI ke AS juga tetap dilanjutkan. Gates yang bekas Direktur CIA itu juga kembali mengungkapkan komitmen pemerintah AS untuk membantu pemerintah Indonesia dalam memerangi terorisme. Gates menceritakan selama beberapa tahun terakhir ini AS intens melakukan pelatihan antiteror kepada Polri agar dapat membantu penangkapan terhadap para teroris yang ada di Indonesia.
Namun, dengan halus dan sopan, Menhan Juwono mengingatkan agar ke depan pelatihan-pelatihan antiteror dari Amerika juga harus disesuaikan dengan situasi politik, sosial, dan budaya di Indonesia. Sebab standar yang berlaku di AS tidak bisa dipaksakan di Indonesia. "Saat itu Menhan Gates mengangguk dan mengiyakan," kata sumber itu. (tom/nue/rdl)
Indonesia Pesan F-16 Lawas
Diposkan di:
Teror Militer
Oleh SPMNes Madlima
Feb 26, 2008 - 7:12:09 PM
Feb 26, 2008 - 7:12:09 PM
© Copyright 2008 by PAPUAPost.com